0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dipa Mahardika, Mendalang Diiringi Musik Band

Dipa Bagas Mahardika, (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Tidak biasanya seorang remaja tertarik menjadi dalang wayang kulit. Lain halnya Dipa Bagas Mahardika, siswa SMP Negeri 13 Surakarta mengaku belajar seni pedalangan sejak usia masih tujuh tahun.

“Dulu saat saya masih usia sekitar 3,5 tahun, saya sering diajak kakek melihat pertunjukkan wayang kulit. Dari situ saya jadi suka, bahkan tertarik untuk belajar wayang dan pedalangan,” ungkap Dipa yang kini berusia 15 tahun kepada wartawan, di Solo, Senin (3/7).

Untuk menekuni seni pedalangan ia memilih Padepokan Sarotama Karanganyar. Ia mengaku, proses belajar wayang dan pedalangan tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Namun dengan landasan kecintaannya pada dunia itulah ia terus belajar dan berlatih dengan tekun.

Putra tunggal pasangan suami-istri, Supatno dan Partini ini, mengakui tampil pertama kali pada sebuah pertunjukan wayang kulit yang digelar di Pasar Triwindu saat ia duduk di bangku Kelas I SD Negeri (SDN) Tugu Jebres, Solo. Setelah itu, tampil pada pertunjukan wayang yang digelar di berbagai tempat dan daerah, hingga ia dikenal sebagai salah satu dalang cilik kebanggaan Kota Solo.

Menurut warga Gulon, RT 003/RW 021, Jebres, Solo ini menyukai bukan hanya dari bentuk wayang yang indah dan unik, tapi juga dari kisah-kisah atau ceritanya, drama, musik, dan seni wayang itu sendiri. Kisah-kisah yang memiliki nilai-nilai luhur dan budi pekerti dalam pewayangan bahkan bisa menjadi pelajaran hidup bagi manusia di masa sekarang ini.

Ia mengaku pernah mempunyai pengalaman unik saat mendalang, yaitu ketika ia tampil mendalang dengan iringan musik kolaborasi berupa musik band, bukan gamelan.

“Unik juga ternyata karena biasanya mendalang iringannya gamelan, tapi waktu itu iringan musiknya musik band,” ujarnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge