0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pedagang Selongsong Ketupat Menjelajah Pasar Potensial

Pedagang musiman menyanyam selongsong ketupat. (foto: Raymond)

Karanganyar – Pedagang musiman selongsong ketupat asal Jumantono ternyata menjelajah pasar-pasar tradisional di Soloraya untuk menjajal kesempatan terbaik. Mereka rela menunda acara silaturahmi lebaran demi meraup untung.

“Saya memilih jualan di Pasar Jungke karena tak terlalu jauh dari rumah. Tapi sebagian tetangga sampai ke Pasar Gading dan Pasar Legi Solo. Di sana, mungkin penjualannya lebih bagus dan untungnya lebih banyak,” ujar pedagang selongsong ketupat asal Desa Genengan, Jumantono, Giyono (45) kepada Timlo.net, Sabtu (1/7).

Ia dibantu istri dan tetangganya berjualan selongsong ketupat. Mereka mengaku musim panen padi di kampung halamannya sudah berakhir, sehingga memiliki waktu luang mengerjakan bisnis musiman itu. Keahlian menganyam selongsong diperolehnya dari orangtuanya yang juga menjadi pedagang musiman itu setiap kali lebaran. Lagipula bahan baku pembuatannya melimpah.

“Nebaske (memborong-red) satu papah Rp 15 ribu. Di desa saya banyak pohon kepala. Tidak sulit memperoleh daun janur,” katanya.

Ia mengaku penjualan pada tahun ini relatif sama dengan tahun sebelumnya. Meski harga selongsong tak naik, permintaan juga sulit terdongkrak. Ia menduga persaingan kian ketat di kalangan pedagang musiman menyebabkan bisnis tersebut stagnan.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge