0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Parah! Sopir Taksi Online Mengaku Dipaksa Lepas Baju di Bandara Adisutjipto

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net – Seorang pengemudi taksi online di Yogyakarta, berinisial F, diduga mengalami persekusi di Bandara Adisutjipto, Minggu (18/6). Dia ditangkap dan dipersekusi lantaran ketahuan mengambil penumpang di area bandara. Tak hanya itu, F pun dipaksa melakukan beberapa hal nyeleneh oleh seseorang yang menggunakan pakaian preman.

“Saya dipiting, diseret keluar dari mobil, dipukul, diteriaki pencuri oleh orang berambut keriting cepak berpakaian preman. Kamudian saya dipaksa melepaskan pakaian saya. Badan saya dicoret-dicoret. Saya juga disuruh nyanyi lagu Garuda Pancasila oleh orang itu,” ucap F, Senin (19/6) malam.

F menuturkan bahwa juga dipaksa berteriak-teriak untuk mengaku salah dan tak mengulang perbuatannya. Dia disuruh push up sebanyak 50 kali dan mencium patung di pipi kiridan kanan.

“Yang menyuruh saya orangnya sama. Cuma satu orang itu saja,” terang F.

F menuturkan bahwa usai dipermalukan di depan orang banyak, dia pun dibawa ke Pos POM Intel AU untuk membuat surat pernyataan melakukan kesalahan dan tidak akan mengulangi. Surat pernyataan itu ditandatangi F di atas materai seharga Rp 6 ribu.

“Saat itu saya tidak bawa materai, kemudian oleh orang yang memiting dan memaksa saya melakukan hal-hal aneh itu saya disodorkan materai. Dia bilang ada uang pengganti materai. Saya bilang saya tidak ada uang. Saya baru narik lima kali hari ini. Lalu saya diminta buka dompet. Saya buka dompet dan saya tunjukkan isinya cuma Rp 11 ribu. Saya ditanya di ATM ada uang gak. Saya jawab ada sedikit tetapi untuk Lebaran. Ditanya lagi kalau Rp 100 ribu ada gak. Saya bilang ada dan saya pun diantar orang itu ke ATM untuk mengambil uang. Kemudian saya kasih Rp 100 ribu untuk pengganti materai,” terang F.

F menyampaikan bahwa dirinya tidak tahu nama orang yang mempermalukan dan menganiaya. F hanya mengaku hanya tahu ciri-ciri orangnya.

“Setelah bikin surat pernyataan saya bersalah dan tak akan mengulangi perbuatan saya lagi, akhirnya saya pun dilepaskan dan dibolehkan pulang,” pungkas F.

Usai insiden yang dialami di bandara, F mengalami trauma. Bahkan dia malu untuk bertemu keluarga.

“Saya malu pada istri dan anak saya. Saya juga malu sama mertua dan kedua orang tua saya. Karena saya diperlakukan seperti itu. Saya juga diteriaki pencuri. Padahal saat itu banyak pengunjung Bandara Adisutjipto yang melihat kejadian itu. Saya malu betul diperlakukan seperti itu,” ucap F.

F mengaku istrinya akhirnya mengetahui apa yang terjadi. Istri F pun sempat menelepon beberapa kali dan tak diangkat oleh F karena merasa malu.

“Istri tahu subuhnya. Saya ditelepon berulang kali tapi tidak saya angkat. Saya malu pada istri saya. Harga diri saya habis. Saya sudah dipermalukan di depan banyak orang. Akhirnya telepon istri saya angkat sorenya. Begitu saya angkat, istri saya menangis. Dia menanyakan bagaimana keadaan saya. Saya jawab saya baik-baik saja. Tidak ada yang luka dan mobil juga utuh. Saya diminta pulang ke rumah Wonosari. Tapi saya malu. Saya malu mau pulang. Akhirnya karena istri terus menangis saya pun akhirnya mau pulang,” ungkap F.

F membantah tak memiliki kelengkapan kendaraan bermotor saat mengemudi. F mengatakan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) A dan memiliki Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK).

“Tidak benar itu jika saya dibilang tidak punya SIM A. Saya punya SIM A tetapi lagi disita karena saya ditilang oleh polisi,” ucapnya.

F mengatakan bahwa saat diminta membuat surat pernyataan, dirinya sudah menunjukkan bukti surat tilang yang dikeluarkan Kepolisian. Di dalam surat tilang, tertulis bahwa SIM A nya disita karena akan menjalani persidangan.

“Surat-surat saya komplet semuanya. Sudah saya tunjukkan semua saat saya membuat surat pernyataan,” papar F.

Sekretaris Jendral (Sekjen) Paguyuban Pengemudi Online Yogyakarta, Yasser Arafat menilai perlakuan yang dialami F merupakan perbuatan yang keterlaluan dan berlebihan.

“Kita semua memang sudah tahu bahwa Bandara Adisutjipto bagi taksi online adalah zona merah. Di zona merah sudah ada kesepakatan bahwa tidak boleh menaikkan penumpang tetapi masih diperbolehkan untuk menurunkan penumpang,” jelas Yasser.

Yasser menyampaikan bahwa memang ada resiko jika menaikkan penumpang di zona merah. Resiko ini sudah diketahui para sopir taksi online. Bahkan pihaknya juga terus mensosialiasikan kepada para sopir taksi online lainnya agar jangan menaikkan penumpang di zona merah.

“Kita semua tahu resikonya. Tapi ya tidak perlu sampai ditelanjangi begitu dong. Biasanya cuma disuruh pergi atau didenda saja. Jangan sampai ditelanjangi. Kalau ditelanjangi kan menjatuhkan harkat dan martabat seseorang. Selain itu juga membuat F mengalami trauma,” tegas Yasser.

Yasser menerangkan bahwa paguyuban pengemudi online akan terus mendampingi F usai kejadian tersebut. Pasalnya, apa yang terjadi dianggap oleh paguyuban pengemudi online merupakan tindakan kriminal dan juga sudah keterlaluan dan berlebihan.

“Minggu malam kami sempat mendatangi pihak Bandara Adisutjipto untuk meminta klarifikasi atas apa yang dialami oleh F. Sayangnya saat kami datang sudah malam dan pihak yang berwenang di bandara sudah pulang,” ungkap Yasser.

Paguyuban telah melakukan koordinasi dengan sopir F. Pihaknya pun saat ini tengah berkonsolidasi untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Hingga malam ini kami masih berkonsolidasi dengan anggota yang lain. Kita akan tentukan langkah selanjutnya seperti apa. Tetapi kami akan terus mendampingi dan membantu F dalam permasalahan yang tengah dihadapinya,” pungkas Yasser.

[cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge