0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gajah Mada Atau Gaj Ahmada? Ini kata Pengurus Muhammadiyah

Patung Gajahmada (merdeka.com)

Timlo.net – Polemik penamaan Mahapatih jaman kerajaan Majapahit, Gajah Mada, mendadak jadi viral di media sosial belakangan ini. Wakil Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya meminta agar polemik tersebut tidak hanya dilihat berdasarkan hasilnya saja tetapi juga pada prosesnya.

Ashad pun mengaku saat penelitian hingga buku berjudul ‘Kasultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi’ karya Herman Sinung Janutama tersebut terbit, dirinya sempat mengikuti prosesnya.

“Bagi kita saat itu kesimpulan seperti itu tidak terlalu penting sebenarnya. Gajah Mada Islam atau tidak, itu tidak penting,” terang Ashad, baru-baru ini.

Ashad menyampaikan bahwa metode yang dilakukan oleh Herman Sinung dalam penulisan buku tersebut menggunakan metode yang menarik. Di antaranya dengan mengunjungi makam-makam tua dan melihat batu nisannya.

“Dari batu nisan itu bisa diketahui dari zaman apa. Soalnya tiap batu nisan itu berbeda-beda bentuk dan ukirannya. Sesuai dengan zamannya masing-masing,” terang Ashad.

Ashad menerangkan bahwa selain menggunakan metode mengunjungi makam, Herman Sinung juga membaca beberapa manuskrip seperti babad. Dari babad-babad yang dibacanya itu, kata Ashad, Herman Sinung mendatangi nama-nama lokasi yang ditulis di sana dan melakukan riset dengan mengumpulkan keterangan dari warga setempat.

“Dari metodologi itu akhirnya Herman Sinung membuat buku tersebut. Saat proses pembuatan, beberapa kali diskusi juga dilakukan dengan mengundang sejumlah ahli seperti Joko Suryo (sejarawan UGM). Saat itu Joko Suryo juga sempat mengkritisi. Apa yang disampaikan Joko Suryo kita terima. Bagi kita saat itu bukan masalah hasil tapi bagaimana yang dilakukan Herman Sinung itu sebagai salah satu cara pandang yang ditawarkan. Kami waktu itu menghargai benar proses intelektual yang sedang dijalani oleh Herman Sinung,” papar Ashad.

Ashad menguraikan bahwa saat ini yang tengah viral di media sosial tak sepenuhnya benar seperti isi buku yang diterbitkan pada tahun 2010 yang lalu. Ada beberapa, lanjut Ashad, yang dipelintir. Di antaranya adalah penamaan Gajah Mada menjadi Gaj Ahmada.

“Di buku itu tidak ditulis Gaj Ahmada tetapi Gajah Ahmada. Yang di sosial media itu tak sepenuhnya benar,” jelas Ashad.

Ashad menambahkan bahwa segala proses intelektual itu harus dihargai. Proses intelektual untuk menemukan sejarah Majapahit dan Gajah Mada itu memberikan alternatif-alternatif hasil yang menarik. Kalaupun ingin menolak, sambung Ashad, harus dengan cara yang intelektual juga.

“Mereka juga perlu berpikir dengan metodelogi alternatif, jangan terjebak pada kemapanan. Kalau ingin menolak ya mari menolak secara metodelogi juga, itu yang menunjukkan seorang intelektual dan tidak,” pungkas Ashad.

[eko]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge