0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kapolri Sebut JAD Berafiliasi dengan ISIS

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (dok.merdeka.com)

Timlo.net – Kelompok Jemaah Ansorut Daulah (JAD) diklaim sebagai organisasi radikal di balik jaringan ISIS masuk ke wilayah Indonesia. Setidaknya ada 16 titik jalur Indonesia yang berpotensi disusupi ISIS.

“Kita sudah paham bahkan bukan hanya 16 titik, di Densus juga petanya jelas sekali, ini kan jaringan JAD, dari laporan versi Densus kepada saya, jaringan ini ada beberapa titik, di beberapa provinsi,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian di Mabes Polri, Jumat (16/6).

Tito pun mengungkapkan, serangan bom di Kampung Melayu adalah ulah dari kelompok radikal JAD yang berafiliasi dengan ISIS. Kata dia, polisi telah menemukan bukti komunikasi langsung antara pelaku teror bom Kampung Melayu dengan Bahrun Naim.

“Sudah ditemukan komunikasi langsung antara Ahmad Sukri yang meninggal di Kampung Melayu dengan Bahrun Naim, melalui mobile phone, tapi saya tidak bisa buka di sini,” ujarnya.

Lebih jauh, dia pun menceritakan secara detil stuktur organisasi JAD yang berafiliasi dengan ISIS di bawah pimpinan Arman Abdurahman dan Bahrun Naim sebagai koodinator yang sekarang berada di Suriah.

“Jadi kalau kita melihat pasca 2013, hampir semua kasus-kasus terorisme seperti yang saya sudah sampaikan di setiap kesempatan bahwa jaringan ini adalah JAD yang dulunya bernama Tauhid Wajihad yang dipimpin oleh Arman Abdurahman, pattern-nya itu adalah ISIS sebagai basis Central di Raqa, Suriah, kemudian penghubungnya Bahrun Naim (Bahrun Syah) yang masih hidup, dan Abu Djandal yang sudah meninggal,” jelasnya.

Lebih jauh, kata Tito, diketahui ada kelompok yang berperan sebagai operator yang mengkoordinir para pelaku radikal di Indonesia. Namun dia memastikan pihaknya telah menngantisipasi hal tersebut.

“Kemudian operator lapangan mereka di Indonesia bernama Jemaah Nasyar Daulah, jadi bukan titik-titik, tapi sel yang sistematis dimana ada yang namanya Mudirah di bawahnya ada Koriah, di bawahnya lagi ada namanya sel kecil, dan ini kita sudah deteksi,” jelasnya.

Tito pun menambahkan, ISIS sebagai basis central bagi para pengikut radikal mengatakan serangan di berbagai wilayah di dunia merupakan strategi yang dibuat untuk meyakinkan bahwa mereka belum sepenuhnya terdesak.

“Serangan di Kampung Melayu itu adalah bagian dari strategi besar ISIS central di Raqa yang sedang terdesak dengan membuat serangan di berbagai negara Inggris, Prancis, Amerika, Filipina serta Indonesia, dalam rangka untuk mengalihkan perhatian sehingga seperti terlihat sel-sel mereka di seluruh dunia itu bergerak,” tuturnya.

Di sisi lain, menurutnya, kurangnya sistem perundangan terorisme di Indonesia, membuat pihaknya merasa kesulitan dalam mengambil tindakan atau langkah pengamanan awal.

“Sekarang persoalannya cuma 1 saja, bahwa Undang-undang terorisme kita sekarang itu tidak cukup untuk mengkriminalisasikan perbuatan awal mereka,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan, jika ditambahkan wewenang dalam penindakan awal, di Undang-Undang terorisme akan mempercepat langkah Polri dalam menangani kasus radikalisme yang berujung tindakan teror.

“Seandainya undang-undang ini dilengkapi dengan diperbolehkannya mengkriminalisasi perbuatan awal ditambah, misalnya siapa saja yang menjadi anggota JAD sebagai organisasi yang dilarang dapat dipidana, saya yakin penanganan kasus terorisme ini tidak akan lama,” jelasnya.

Mantan Komandan Densus 88 ini juga memberikan lampu hijau kepada TNI untuk ikut dalam penanggulangan terorisme yang marak terjadi.

“Termasuk saya juga sudah menyampaikan dari awal jika rekan-rekan dari TNI ingin mengambil langkah dalam penanggulangan terorisme saya rasa Polri mempersilakan itu,” tandasnya.

[rnd]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge