0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Buntut Temuan Sel Mewah, Kalapas Cipinang Dicopot

ilustrasi penjara (merdeka.com)

Timlo.net – Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laloly mencopot Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang, Kunto Wiryanto. Pencopotan ini menyusul temuan Badan Narkotika Nasional (BNN) adanya sel mewah kepada narapidana narkoba Haryanto Chandra alias Gombak di Lapas Cipinang.

Tak hanya itu, Yasonna dan Sekjen Kemenkum HAM juga menandatangani surat pemberhentian Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Cipinang, Sugeng Hardono.

“Hari ini Kalapasnya saya sudah tanda tangani untuk dinonjobkan,” kata Yasonna, Kamis (15/6).

Pihaknya akan melakukan pemeriksaan kepada jajarannya atas masalah ini. Bagi petugas Lapas terlibat, Yasonna menegaskan akan memberikan sanksi berat seperti memutasi mereka ke tempat jauh.

“Nanti orang orang yang terlibat akan saya sanksi berat kemudian dipindah jauh-jauh,” tandasnya.

Yasonna mengungkapkan, penggeledahan yang dilakukan BNN sudah mendapat izin dan pendampingan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Namun, Yasonna meradang karena Kalapas Cipinang Kunto Wiryanto menyatakan tak pernah melihat ada sel mewah bagi narapidana.

“Kalapasnya bilang enggak pernah lihat, enggak benar, yah berarti itu dia tidak melakukan tugas dan fungsinya,” katanya.

Selain itu, Yasonna berencana memindahkan Haryanto Chandra ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

“Yang berikutnya itu napinya, siapa namanya, Chandra akan saya pindahkan ke Nusakambangan. Tetapi sekarang kan masih di bawah BNN. Jadi jangan juga seolah-olah ada kesan yang tidak kita biarkan masuk,” katanya.

Yasonna mengaku telah memerintahkan Dirjen Pemasyarakatan I Wayan Dusak menyurati BNN untuk meminta daftar nama-nama jaringan narkoba yang mendekam di Lapas. Jaringan-jaringan narkoba itu nantinya akan langsung dipindahkan ke Lapas Nusakambangan.

“Tadi saya sudah minta pada Dirjen menyurati BNN. seperti yang kejadian sebelumnya supaya meminta daftar yang seluruh ditengarai punya jaringan narkoba karena kami tidak punya alat,” tegasnya.

Lapas Nusakambangan, kata Yasonna, akan mendapat pengawasan super ketat dari petugas baik dari kepolisian, BNN, dan semua pihak terkait. Dilibatkannya BNN dalam pengawasan karena mereka memiliki alat yang mampu mendeteksi praktik peredaran narkoba di dalam Lapas.

Peredaran narkoba dari dalam Lapas juga tak lepas dari peran petugas yang tergoda iming-iming uang dari para jaringan narkoba.

“Di situ ada polisi, BNN dan semua pihak jadi untuk mengurang apa yang dikatakan potensi jaringan itu. Kami enggak punya alat. Kami enggak tahu seperti apa bahwa mereka memainkan. Pasti ada lah petugas yang lemah dengan uang. Nah itu yang kita mainkan,” tandasnya.

Sebenarnya, Kemenkum HAM telah memiliki alat pendeteksi peredaran narkoba di Lapas. Akan tetapi, menurut Yasonna, alat tersebut belum dipasang.

“Kita sudah punya beberapa alat tapi mungkin sudah masuk sebelum alat kita install, kami kan dapat APBN-Perubahan yang lalu. Ada beberapa alat canggih yang kita masukkin, hanya itu mungkin dimasukkin sebelum alat itu datang,” ungkapnya.

Bagi petugas Lapas yang kedapatan menerima suap, Yasonna menegaskan bakal mengambil tindakan tegas. Tak tanggung-tanggung, petugas menerima atau memeras para napi akan dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penyuapan.

“Soal memeras napinya yang terjadi di rutan ini semua. Saya sudah katakan enggak ada kompromi lagi, langsung main keras. Kalau ada yang dikasih pidana dan penyuapan dan lain-lain, saya serahkan kepada polisi,” ujar Yasonna.

[eko]

Sumber: merdeka.com



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge