0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sebelum Bunuh Wiwit, Martinus Asworo Sempat Adu Mulut

Tersangka pembunuh Wiwit, Martinus Asworo (merdeka.com)

Timlo.net – Polisi menetapkan tersangka kepada Martinus Asworo (33) dalam kasus pembunuhan Chatrina Wiedyawati alias Wiwit (30). Tersangka dikenakan Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman mati.

Kepada wartawan, Asworo mengaku menyesalkan telah membunuh Wiwit yang semestinya dia nikahi September 2017. Namun karena terlalu emosi, dia mengaku tidak bisa berpikir jernih sebelum mengambil tindakan.

“Saya menyesal, saya khilaf. Itu karena saya terbawa emosi,” ungkap tersangka Asworo di Mapolda Sumsel, Rabu (14/6).

Dia menceritakan, pada 6 Mei 2017, dirinya menjemput Wiwit di Prabumulih dengan alasan mengajak pre wedding dan membeli souvenir pernikahan di Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju Palembang, Asworo kaget ditanya Wiwit berapa banyak tabungan untuk pernikahan mereka.

Saat itu Wiwit mengaku sedang tidak punya uang. Asworo pun kesal karena selama ini dirinya mengandalkan Wiwit untuk memenuhi seluruh kebutuhan persiapan pernikahan, termasuk pre wedding.

“Saya kira dia (korban) punya uang, tapi tidak punya juga, makanya saya bingung,” ujarnya.

Setiba di Palembang, Asworo mengajak korban menginap di Hotel Azzah di Jalan Angkatan 45 Palembang. Dia awalnya ingin ikut menginap tetapi memilih kembali ke mess tempatnya bekerja.

“Saya tidak mood lagi karena cerita siangnya. Saya biarkan dia nginap di hotel sendiri,” kata dia.

Keesokan harinya pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 05.00 WIB, Asworo menjemput korban di hotel dengan mobil sewaan. Mereka menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang untuk terbang ke Yogyakarta, namun tiket belum dipesan.

Ternyata, di dalam mobil mereka kembali cekcok mulut. Lagi-lagi masalahnya karena biaya nikah. Asworo dibuat emosi karena korban menuntutnya mempersiapkan seluruh biaya pernikahan.

Cekcok mulut akhirnya berujung pembunuhan. Asworo menonjok wajah korban dan memukuli korban dengan kunci setir berkali-kali. Saat sekarat, korban dibuang ke semak-semak.

“Saya emosi dibuat begitu, karena tadinya semua biaya ditanggung dia (korban). Ini saya yang disuruh juga,” terangnya.

Usai membunuh, tersangka memeloroti seluruh harta benda korban, salah satunya ATM berisi uang Rp 7 juta. Malam harinya, tersangka menyerahkan mobil sewaan yang telah dicuci terlebih dahulu.

Tanggal 8, tersangka pergi ke Indralaya, Ogan Ilir, dengan tujuan menjual sepeda motornya. Lalu, dia berangkat ke Lampung dengan menumpang mobil travel.

Selama di Lampung, Asworo sempat menginap di hotel berbintang dan pindah ke beberapa tempat lain. Akhirnya, dia tertangkap di tempat persembunyian terakhir.

“Saya jual motor agar hilangkan jejak, saya ke Lampung karena ada teman di sana,” jelas dia.

[ian]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge