0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kepala Sekolah Lalai Tandatangani Piagam, Siswa Tak Bisa Konversikan Poin

Piagam lomba milik FRK yang dinyatakan tidak sah (kiri). Setelah klarifikasi, pihak sekolah penyelenggara lomba mengganti piagam baru (kanan). (foto: Heru)

Solo – Seorang kepala sekolah diduga lalai dalam memberikan tanda tangan sertifikat piagam lomba. Karena dinyatakan tidak sah oleh petugas Dinas Pendidikan saat legalisir, piagam tersebut tidak bisa dikonversi untuk menambah poin siswa dalam pendaftaran peserta didik baru di tingkat SMA.

Kejadian itu bermula, saat seorang siswa yang baru lulus SMP tahun ini berinisial FRK, melegalisir piagam lomba lukis payung dari lomba Chreaphoria 2016 yang diadakan oleh Ekstra Kulikuler Palah Merah Remaja, di SMA Negeri 1 Solo. Bersama orangtuanya dia pergi ke SMA tersebut.

Namun di SMA Negeri 1 Solo, dia tidak bisa legalisir karena nama pejabat pengesah sesuai yang tertulis di lembar piagam itu adalah Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Etty Retnowati.

“Ternyata, yang bisa melegalisasi adalah Disdik, karena disitu tertera tandatangan dari Kepala Disdik,” kata orang tua FRK, Yayan Suherlan, kemarin.

Selanjutnya, FRK bersama orang tuanya diberi surat pengantar, untuk menuju ke Disdik. Namun, setelah diproses di Disdik Kota Solo, ternyata petugas bagian verifikasi menyatakan bahwa yang bertandatangan itu bukan dari Disdik Kota Solo.

“Padahal yang tertera disitu adalah nama dari Kepala Disdik, Etty Retnowati. Ada tanda tangan dan juga stempel, tapi tanda tangan yang ada disitu dikatakan palsu,” beber Yayan.

Terkejut dengan jawaban petugas dinas, Yayan mencoba mengkonfirmasi kepada pihak penyelenggara lomba. Sampai di SMA 1 Solo, Yayan ditemui oleh salah seorang Wakil Kepala Sekolah.

“Tapi tampaknya Wakil Kepala Sekolah ini juga kurang paham secara detail tentang kegiatan lomba yang diadakan oleh siswa mereka, namun saya dijanjikan untuk diselesaikan,” imbuhnya.

Setelah itu pada siang harinya datanglah pihak dari SMA Negeri 1 Solo yakni Ketua Panitia didampingi guru pembibing ekstra kulikuler. Kedatangannya itu bermaksud untuk mengganti piagam yang dimiliki FRK dengan piagam yang baru.

“Setelah diganti, itu di piagam yang baru itu atas nama kepala sekolah, padahal kan yang laku (untuk dikonversi) adalah yang dari Disdik,” ungkap dia.

Lebih terkejut lagi saat Yayan melihat tanda tangan yang ada di piagam lama (atas nama kepala dinas pendidikan) identik dengan piagam yang baru, tandatangan atas nama kepala sekolah.

“Saya tidak tahu apakah yang bertandatangan itu kepala sekolah atau tidak, tetapi memang identik dan bisa dibandingkan,” imbuhnya.

Yayan mengaku tidak bisa menerima kejadian ini. Pihaknya merasa SMA Negeri 1 Solo telah memberikan piagam palsu kepada anaknya. Yayan meminta kepada dinas untuk bisa memberikan kebijaksanaan dengan adanya kasus ini.

Sementara Kepala sekolah SMA Negeri 1 Solo, Harminingsih, mengaku melakukan kesalahan pada penandatanganan itu. Dia mengatakan bahwa ada banyak piagam yang harus dirinya berikan tanda tangan, dan tidak sempat mengechek satu persatu.

Meski begitu Hermin meyakinkan bahwa hanya ada satu piagam yang terjadi kesalahan penandatanganan tersebut.

“Itu kegiatannya anak-anak. Ya memang ada yang salah (cetak), dan saat itu saya menandatangani banyak piagam, jadi mungkin ada yang terselip, dan tidak sengaja saya tandatangani. Tapi semuanya sudah kita selesaikan dengan baik. Baik ke dinas kami sudah laporkan, juga kepada orang tua anak juga sudah kami ganti,” katanya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge