0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sejarawan : Sukoharjo Punjering Budoyo

Bambang Hermanto, Seniman Asal Sukoharjo (Dok. Timlo.net)

Sukoharjo — Berbicara tentang Sukoharjo tidak bisa terlepas dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang sebelumnya berada di Kartasura, sekarang menjadi wilayah Kabupaten Sukoharjo. Setelah peristiwa perang besar geger pecinan melanda Keraton Kartasura, pihak keraton sepakat memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Sala yang sekarang menjadi Surakarta.

Namun sebelum akhirnya memilih lokasi di Sala atau Solo sebutan saat ini, beberapa utusan Keraton Kartasura diperintahkan untuk mencari lokasi baru paska Geger Pecinan. Dan tiga orang yang diutus tersebut memilih Sukoharjo sebagai wilayah yang tepat, berdasarkan perhitungan yang cukup matang, namun karena kepentingan keamanan, dialihkan ke Solo.

“Sejarah yang saya tahu, dulu setelah geger pecinan, Keraton Kartasura hancur dan harus mencari lokasi baru, dipilihlah Sukoharjo karena dianggap tepat berdasarkan letak geografisnya. Namun karena lokasi berdekatan dengan musuh pada waktu itu, demi kepentingan keamanan, dipilih Desa Sala di pinggir Sungai Bengawan Solo,” kata salah satu budayawan Sukoharjo, Bambang Hermanto, Minggu (11/6).

Pada waktu itu, Sukoharjo akhirnya masuk dalam wilayah kekuasaan Keraton  Kasunanan Surakarta dengan status Kawedanan, setara dengan Mojolaban dan Kartasura. Seiring berjalannya waktu, Sukoharjo melepaskan diri dari kekuasan Keraton Surakarta dan berdiri sendiri membentuk Kabupaten pada 15 Juli 1946 dan menjadi hari kelahiran Kabupaten Sukoharjo sampai sekarang.

Sebagai bagian dari Keraton Kasunanan Surakarta, kota yang bersemboyan Makmur ini tidak bisa terlepas dari pengaruh budaya dan kesenian keraton Kasunanan Surakarta. Dan bahkan, kebanyakan yang sering tampil di Solo adalah seniman-seniman dari Sukoharjo, sehingga tidak bisa dipungkiri kalau banyak sanggar-sanggar seni di kota makmur ini.

“Setahu saya ada ratusan sanggar seni yang ada di Sukoharjo sejak jaman dahulu, namun saat ini ada yang masih bertahan dan ada yang sudah tidak aktif karena berbagai hal. Mereka rata-rata sanggar musik tradisional dan kesenian tari tradisional hingga kontemporer, namun yang jelas darah seni mengalir di setiap warga Sukoharjo,” ungkap salah satu seniman yang masih bertahan, Bimo Wijanarko.

Potensi seni dan budaya ini sendiri tidak hanya berbentuk pertunjukan, namun berpengruh ke sektor ekonomi kreatif masyarakat Sukoharjo. Seperti adanya home industry Tatah Sungging, Wayang, Gitar di Baki, sampai rotan di Trangsan, Gatak, semua terpengaruh unsur seni dan budaya yang ada di masyarakat sejak jaman dahulu.

Sementara itu, di seni pertunjukan, Sukoharjo merupakan gudangnya seniman mulai dari pemula hingga yang sudah kelas internasional. Seperti Mugiyono Kasido, seorang penari sekaligus koreografer yang sudah melangang buana hingga ke manca negara merupakan salah satu seniman yang cukup sukses, dengan rutin menggelar event Festival Hujan di studionya, Studio Mugidance, Desa Pucangan, Kartasura.

Selain itu adalagi, seniman yang menggeluti seni instalasi, Wawan Artistika, dengan sentuhan ajaibnya, pria yang juga mengajar di ISI Solo ini bisa membuat barang-barang bekas menjadi sangat artistik. Dia sudah bertahun-tahun menggeluti seni instalasi dan selalu menjadi pilihan dunia pertunjukan bertaraf nasional bahkan internasional di Solo dan kota-kota lainnya.

Masih ada lagi sanggar-sanggar kesenian karawitan yang hampir di setiap kecamatan ada, dan mereka masih aktif meskipun ada beberapa diakui kesulitan untuk regenerasi. Namun demikian, dengan sentauhan pemerintah, nilai-nilai luhur seni dan budaya bisa dilestarikan dan menjadi ikon kota yang mampu menjadi daya Tarik tersendiri.

Hal ini tidak bisa terlepas dari Sukoharjo yang sangat minim obyek wisata alam, namun untuk seni budaya sangat banyak, namun mereka para seniman justru lebih terkenal di luar Sukoharjo. Namun demikian, yang tidak mampu bertahan, mereka akhirnya meninggalkan status mulianya sebagai seniman, dan mencari jalur aman untuk keberlangsungan hidup.

“Kalau kondisi kesenian saat ini, ada yang masih bertahan namun ada juga yang tidak bisa bertahan dan akhirnya ada kesenian yang punah, seperti Srandul dari Tawangsari. Namun sebagian yang masih bertahan, dan aktif berkesenian, mereka lebih dikenal di luar Sukoharjo, karena di sini sangat sepi event dan kalau adapun hanya tertentu saja,” tandas Seniman Muda, Pratiknyo.

Cukup ironis memang melihat kondisi kesenian di Sukoharjo yang sebetulnya mempunyai potensi yang sangat luar biasa banyak dan kualitasnya juga tidak diragukan lagi, karena memang selama ini menjadi salah satu penyangga kesenian Surakartan. Padahal, menurut sejarah, Sukoharjo bisa dikatakan “ Punjering Budoyo” atau pusatnya budaya, kalau merujuk sejarah adanya penemuan situs sub manusia purba, banyaknya penemuan benda purbakala hingga kota tua yang berusia ratusan tahun di Kedung Gudel.

“Dengan potensi seni budaya yang sangat luar biasa ini dibutuhkan komitmen masyarakat, pemerintah dan pelaku seni untuk merumuskan kembali apa yang akan dilakukan ke depan. Mengingat, Sukoharjo tidak bisa dipungkiri, terbentuk karena nilai-nilai luhur budaya jaman dahulu dan menjadi punjering budoyo,” tandas Bimo Wijanarko.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge