0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Langkah BNPT Tangkal Penyebaran Paham Radikal Melalui Masjid

Seminar Pelibatan Takmir Masjid dalam Pencegahan Terorisme di Solo, Jumat (9/6) (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Penyebaran paham radikal banyak dilakukan para teroris melalui masjid. Selain menyebarkan doktrin kekerasan, tak jarang para anggota penyebar teror juga merekrut anggota baru melalui tempat ibadah tersebut.

“Dari beberapa kasus yang kami pelajari, banyak anggota teroris memanfaatkan rumah ibadah sebagai penyebaran paham radikal, perekrutan anggota termasuk melakukan pembaiatan,” terang Direktur Pencegahan Badan Nasional Penganggulangan Teroris (BNPT), Brigjen Hamli dalam kegiatan Pelibatan Takmir Masjid dalam Pencegahan Terorisme yang digelar, di Solo, Jumat (9/6) sore.

Perwira tinggi yang pernah bertugas di Satuan Densus 88 Anti Teror ini mengaku, biasanya masjid-masjid yang mereka gunakan terpusat di kawasan perkotaan. Dimana, budaya masyarakat mereka sudah agak renggang antara satu dengan yang lain. Meski begitu, tak menutup kemungkinan juga jika mereka menyasar masjid di kawasan pedesaan.

“Tergantung dari kultur masyarakat di wilayah tersebut. Mereka akan menyamar dengan menjadi takmir, lalu mempengaruhi penduduk sekitar agar mengikuti ajaran mereka,” jelasnya.

Maka dari itu, terang perwira bintang satu ini, peran takmir masjid untuk membentengi masyarakat dari paham radikal yang disebarluaskan para teroris sangatlah vital. Dengan keaktifan takmir masjid menjaga lingkungan mereka, tentu saja akan mempersempit ruang gerak teroris dalam melancarkan strategi penyebaran paham radikal.

“Jika seluruh takmir masjid ini selalu waspada terhadap penyebaran paham tersebut, dapat melakukan tindakan secara langsung. Atau, melapor pada pihak berwajib,” terangnya.

Pernyataan dari Brigjen Hamli, dibenarkan mantan anggota teroris Kurnia Widodo. Pria yang dikenal peracik bom ini mengaku, penyebaran paham radikal dengan menggunakan keyakinan agama dinilai cukup efisian untuk menggugah ghiroh (semangat) jihad seseorang. Hal ini terbukti ketika dirinya juga menjadi anggota perekrutan anggota teroris.

“Memang, cara tersebut sangat efisien untuk menanamkan doktrin kekerasan, kebencian serta merekrut anggota baru,” jelas pria lulusan ITB Bandung tersebut.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge