0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Uber Dilarang, Uber Disayang

Jalan Slamet Riyadi (foto: Rosyid)

Solo – Kehadiran Uber di Solo menuai pro kontra. Terlebih, Pemkot melarang operasional taksi online ini karena terbentur persyaratan yang harus dipenuhi.

Di sisi lain, masyarakat justru mengapresiasi kehadiran sarana transportasi via daring ini. Aplikasi pemesanan mobil itu dianggap memberi alternatif sarana transportasi yang lebih baik dibanding taksi. Tak hanya lebih murah, taksi online ditengarai menawarkan kualitas layanan yang lebih baik.

“Harganya jelas. Sebelum naik pun kita sudah tahu harus siapkan uang berapa,” kata salah satu pengguna Uber, Agus, Sabtu (27/5).

Penumpang hanya ditarik biaya Rp 2.500 per kilometer atau Rp 750 per menit. Dengan tarif yang jauh lebih murah dari taksi konvensional, tak jarang pengguna justru membayar lebih karena merasa membayar terlalu rendah.

“Kadang tidak tega kalau cuma membayar Rp 10 Ribu. Kadang-kadang malah saya tambah,” kata dia.

Tak hanya Agus, mahasiswa UNS, Arifa Riyanti mengaku lebih memilih Uber dibanding taksi konvensional karena armada yang dipakai dirasa lebih nyaman. Saat membuka pendaftaran sopir beberapa waktu lalu, Uber menetapkan armada maksimal dibuat tahun 2011.

“AC-nya lebih dingin. Mobilnya juga lebih nyaman. Mungkin karena milik pribadi, jadi perawatannya lebih baik. Beda dengan taksi, armadanya kan milik perusahaan,” kata dia.

Dengan adanya aplikasi, calon penumpang juga bisa memantau posisi mobil yang akan mengangkutnya. Dengan demikian, penumpang bisa mengetahui secara pasti kapan mobil jemputannya datang.

“Selama perjalanan kita bisa tahu rute yang diambil sopir sesuai dengan yang di aplikasi atau tidak. Sopir tidak bisa muter-muter supaya tarifnya nambah,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge