0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Peran Keluarga dan Inovasi, Vital Untuk Ketahanan Budaya

 Suasana talkshow di Solo Grand Mall, Minggu (21/5) (timlo.net/ichsan rosyid)

 

Solo — Sejumlah mahasiswa Komunikasi Universitas Sebelas Maret angkatan 2014 menggelar talkshow di Solo Grand Mall, Minggu (21/5). Talkshow bertajuk “Aku Suka Budayaku” itu menyoroti masa depan budaya di tangan generasi penerus.

“Tema ini sebenarnya berangkat dari perayaan Hari Anak Internasional yang diperingati setiap 1 Juni. Kita melihat anak-anak dari perspektif budaya,” kata ketua penyelenggara, Fahrizal Alhamdani di sela acara.

Untuk mengupas tema ini, penyelenggara menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan praktisi budaya dan pendidikan yaitu Sinden Sruti Respati, Guru Karawitan asak Yogjakarta Saryanto, Penyanyi Keroncong Satria Dhimas Santosa, dan Pengusaha Jajanan Pasar Glenn Ardiansyah.

“Untuk mempertahankan budaya lokal, kita harus mulai dari keluarga. Tidak bisa kalau keluarga tidak berperan. Karena pendidikan anak pertama kali didapatkan dari keluarga,” kata dia.

Sruti sendiri masih memraktekkan budaya jawa di keluarganya. Anak-anaknya diharuskan berbahasa krama inggil. Sejak usia dini, anak-anak Sruti sudah dikenalkan dengan keroncong, gamelan, dan tembang-tembang Jawa. Sruti menyarankan peserta acara melakukan hal yang sama di rumah atau saat membangun rumah tangga kelak.

“Tidak susah. Intinya, kita yang memberi contoh. Kita harus mulai mencintai budaya kita sendiri. Nanti anak-anak akan meniru,” kata dia.

Bila Sruti mengedepankan pendekatan keluarga, Saryanto menyoroti dunia  pendidikan formal. Menurutnya, anak-anak perlu dikenalkan dengan budaya lokal dengan cara yang menyenangkan. Berdasarkan pengalaman, gending-gending klasik dirasa terlalu berat untuk anak usia SD.

“Akhirnya saya modifikasi. Anak-anak saya ajari main kendang seolah sedang main drum. Ternyata mereka suka,” kata pegiat karawitan untuk anak-anak di Yogjakarta itu.

Trik Saryanto memodifikasi gamelan sesuai perkembangan jaman terbukti ampun menarik minat anak-anak. Enam tahun yang lalu, ia kesulitan mencari sekadar lima pengrawit  untuk lomba. Sekarang, ia harus menyeleksi lebih dari seratus peminat.

“Memang banyak yang protes terutama seniman-seniman senior karena saya dianggap menyalahi pakem. Tapi bagaimana lagi? Kalau tidak begitu, mereka tidak mau,” kata dia.

Saryanto mengaku modfikasi gamelan hanyalah cara menarik minat generasi penerus. Ia tetap bertekad mengenalkan pakem-pakem gamelan dan gending-gending klasik. Hal itu akan dilakukan bertahap sesuai kemampuan anak-anak.

Tentunya, dua hal tersebut memerlukan kemauan yang kuat dari masyarakat dan pemerintah. Seperti disampaikan Sruti, Pemerintah harus menciptakan lingkungan pendidikan dan fasilitas publik yang mendukung. Sementara masyarakat harus menyambutnya dengan setidaknya mengenal budayanya sendiri.

“Pasti tidak mudah. Tapi ini demi masa depan budaya dan anak-anak kita sendiri. Jangan sampai anak-anak kita merasa asing apalagi malu dengan budayanya sendiri. Itulah identitas kita,” pesannya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge