0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ahli Dari Korea Selatan Kaitkan Ransomware WannaCry Dengan Korea Utara

Serangan WannaCry di papan reklame digital di Bangkok. (Dok: Timlo.net/ nationmultimedia.com )

Timlo.net—Seorang ahli keamanan cyber Korea Selatan berkata Selasa (16/5) bahwa ada beberapa bukti jika Korea Utara adalah dalang di balik serangan ransomware global. Cara para hacker mengambil alih komputer dan server di seluruh dunia mirip dengan serangan yang sebelumnya dilakukan Korea Utara.

Ahli keamanan bernama Simon Choi, yang juga kepala perusahaan software anti virus Hauri Inc menganalisa malware Korea Utara sejak 2008. Dia berkata jika Korea Utara bukanlah pemain baru dalam dunia bitcoin. Negara itu mengumpulkan uang bitcoin menggunakan program jahat di komputer sejak 2013.

Dalam serangan yang terjadi akhir pekan lalu, para hacker meminta uang tebusan dari para korban dalam bentuk bitcoin. Tahun lalu, Simon secara tidak sengaja berbicara dengan seorang hacker asal Korea Utara tentang pembuatan ransomware. Dia lantas memperingatkan pemerintah Korea Selatan.

Jika benar Korea Selatan adalah dalang di balik serangan terakhir ini, Simon meminta dunia berhenti meremehkan kemampuan malware itu. Dia mendorong dunia bekerja sama untuk memikirkan cara baru menghadapi serangan cyber. Misalnya Cina bisa mematikan koneksi internet di Korea Utara.

Simon Choi merupakan salah satu peneliti dunia yang menyatakan adanya hubungan antara WannaCry dengan Korea Utara. Tapi belum ada bukti yang kuat terkait hubungan ini. Pihak berwenang masih bekerja untuk menangkap para pelaku di balik serangan global ini. Mereka mengumpulkan bukti-bukti digital dan melacak uang tebusan itu.

Para peneliti di Symantec dan Kaspersky Lab menemukan kesamaan antara WannaCry dan serangan-serangan yang sebelumnya diduga dilakukan oleh Korea Utara. Korea Selatan sendiri sering menjadi target serangan cyber. Saat dilacak, negara itu melihat jika serangan-serangan ini berasal dari Korea Utara. Beberapa serangan yang berbahaya terjadi antara tahun 2009 hingga 2013. Akibat serangan itu, situs-situs milik pemerintah tidak bisa diakses. Sistem penyiaran dan perbankan lumpuh.

Korea Selatan hampir lolos dari serangan terakhir ini. Salah satu penyebabnya karena ancaman yang sering terjadi sehingga pemerintah dan perusahaan terus menerus mengupdate software mereka.

Sumber: The New York Post.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge