0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Dampak Ransomware WannaCry di Asia

Ransomware wannacry. (Dok: Timlo.net/ Mirror.co.uk)

Timlo.net—Beberapa rumah sakit, sekolah dan universitas di Asia juga terkena serangan ransomware. Sebelumnya serangan ini menginfeksi puluhan ribu komputer di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Tapi pihak berwenang dan penelitian berkata jika dampak kerusakan akibat ransomware WannaCry ini belum diketahui.

Dalam beberapa kasus, beberapa perusahaan tutup selama akhir minggu sehingga tidak menyadari jika sistem komputer mereka telah diserang. Baru saat dibuka pada hari Senin (15/5)  dan menghidupkan komputer mereka, mereka menyadari hal ini.

Di Thailand, the Digital Economy and Society Ministry berkata mereka belum menerima adanya laporan serangan WannaCry sejauh ini. Staf kementerian yang bekerja di bawah the Thailand Computer Emergency Response Team di bawah the Electronic Transactions Development Agency mengawasi dan mencegah penyebaran ransomware itu, kata Group Capt Somsak Khaosuwan, sekretaris kementerian.

Situs berita Xinhua berkata jika di Cina beberapa sekolah dan universitas terkena serangan ini. Sistem komputer di sekolah dan universitas dikunci dan ada permintaan tebusan berupa uang dalam bentuk bitcoin. Tapi situs itu tidak menyebutkan berapa banyak sekolah yang terkena serangan.

Sun Yat-sen University berkata jika mereka menerima sejumlah keluhan terkait virus itu pada Jumat (12/5). Sementara itu, William Saito, penasehat keamanan cyber di kementerian kabinet dan perdagangan di Jepang berkata jika beberapa lembaga di negara itu juga terkena serangan. Tapi dia menolak mengungkapkan lebih lanjut.

Situs berita Yonhap dari Korea Selatan berkata jika salah satu rumah sakit di Seoul juga terkena serangan ini. Seorang pejabat berkata mereka tidak yakin apakah rumah sakit itu terserang WannaCry atau malware lain.

Thailand dikatakan sebagai salah satu dari 99 negara yang terkena sarangan. Tapi informasi detil terkait perusahaan atau institusi yang terkena belum diketahui. Minggu lalu, polisi Thai memperingatkan tentang serangan ini yang semakin memburuk.

Pihak berwenang di negara itu menasehatkan para pengguna komputer tidak membuka lampiran dari email yang mencurigakan. Pengguna juga diminta memastikan jika mereka menginstal update keamanan terbaru Microsoft untuk komputer mereka yang memakai Windows.

Juru bicara pemerintah Sansern Kaewkamnerd berkata jika Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha memperingatkan warga untuk berhati-hati saat mendownload file yang mencurigakan. Dia meminta kementrian DE menyelidiki kejadian apapun terkait serangan ini. Kementeria itu juga didesak untuk menolong warga mencegah serangan ini.

Di Indonesia, dikatakan ada dua rumah sakit besar yang terkena serangan, Rumah Sakit Dharmais dan Harapan Kita. Informasi ini berasal dari Semuel Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika.

Himbauan Kominfo Indonesia (Twitter).

“Usaha-usaha untuk melokalisasi server yang terinfeksi sedang dilakukan untuk mencegah [ransomware itu] menyebar,” katanya. Dia menambahkan jika kementerian sedang bekerja dengan pihak berwenang lainnya termasuk Kementerian Kesehatan untuk menyelesaikan masalah itu.

“Serangan ini sangat kejam,” kata Abdul Kadir, Presiden Direktur Rumah Sakit Dharmais.

Hampir setiap komputer di rumah sakit itu terkena serangan, katanya kepada Reuters. Sistem IT di rumah sakit terkunci, begitu pula dengan catatan medis dan tagihan para pasien.  Para teknisi bekerja untuk menginstal ulang sisstem berdasarkan backup server dan komputer . Dia mengatakan operasional rumah sakit akan tertunda karena tidak adanya sistem IT.

Sementara itu di Vietnam, beberapa perusahaan antivirus berkata jika belasan orang melaporkan terkena infeksi serangan. “Jumlah ini mungkin naik saat orang-orang kembali bekerja minggu depan. Sejumlah besar komputer mungkin dihidupkan dan menjadi target,” kata Vu Ngoc Son, wakil presiden Bkav Anti Malware minggu lalu.

Dia menolak menyebutkan jika ada perusahaan yang terinfeksi. Sementara itu, pejabat di Filipina dan Singapura berkata tidak ada laporan terkait serangan terhadap infrastruktur penting. Selandia Baru dan Australia melaporkan jika belum ada organisasi atau perusahaan yang terkena.

Ada dua faktor yang mungkin menyebabkan sedikitnya laporan kerusakan di Asia. Virus ini mulai menyebar di Eropa pada Jumat (12/5). Pada waktu itu, banyak negara Asia sudah memasuki waktu malam. Virus itu menyebar lewat jaringan komputer perusahaan dan bukan pada komputer rumahan, kata kepala manajer peneliti di Symantec, Vikram Thakur. Hal ini berarti para pejabat harus menunggu hingga Senin (15/5) saat perusahaan dan organisasi mulai bekerja lagi untuk melihat dampaknya.

Faktor kedua adalah penyebaran virus ini menjadi terbatas. Alasannya seorang peneliti keamanan komputer Inggris berkata dia secara tidak sengaja membeli domain yang diduga dipakai untuk menyebar virus itu. Karena dia membeli domain itu, penyebaran virus bisa dibatasi. Tapi para hacker bisa mengakali hal ini dan membuat virus baru.

Sumber: Bangkok Post.

Editor : Ranu Ario

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge