0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Aksi 1.000 Lilin Semarang Tuntut Bubarkan HTI dan FPI

aksi seribu lilin di Semarang (merdeka.com)

Timlo.net  — Ribuan warga Kota Semarang, Jawa Tengah selain melantunkan lagu kebangsaan Indonesia juga melakukan orasi saat menggelar aksi 1.000 lilin untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menuntut organisasi masyarakat (ormas) Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk dibubarkan.

Tuntutan itu disuarakan bersama-sama saat ribuan warga Kota Semarang itu menggelar aksinya di Kawasan Taman Keluarga Berencana (Taman KB) di Jalan Menteri Supeno, Kota Semarang, Jawa Tengah Jumat (12/5) malam.

Pekikan tuntutan pembubaran FPI dan HTI oleh masa secara bersama-sama terjadi saat politisi PDI Perjuangan yang juga Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi melakukan orasi dipanggung aksi yang berada di tengah-tengah Taman KB ini.

“Merdeka,!!! teriak Supriyadi membuka orasinya dan dijawab dengan semangat oleh ribuan peserta aksi yang hadir.

“NKRI?? Harga mati!!! Pancasila??? Abadi!!! FPI??? Bubarkan!!! HTI?? Bubarkan,!!! teriak Supriyadi dan massa secara bersama-sama.

Supriyadi menyatakan jika sebelum kasus penistaan agama yang menyebabkan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok harus divonis penjara selama dua tahun, di Semarang pembentukan FPI telah ditolak oleh seluruh elemen dan ormas di Kota Semarang. Termasuk HTI yang juga saat ini dalam proses pembubaran yang dilakukan oleh pemerintah. Untuk itu, Supriyadi meminta warga Kota Semarang tidak hanya berdiam diri saja.

“Kita ke sini juga tidak hanya karena figur seorang Ahok saja!!! Tetapi karena NKRI yang harga mati telah diinjak-injak oleh kelompok ormas agama yang tidak bertanggungjawab!”ujar Supriyadi.

“Kita tidak mau FPI dan HTI hidup di Semarang! Betul! Oleh karena itu kita jangan berdiam diri!”teriaknya dan dijawab oleh masa dengan teriakan dan yel-yel bebarengan;

“FPI Bubarkan! FPI Bubarkan! FPI Bubarkan! teriak masa secara serentak.

“Kita harus bersatu!!! Kita sudah diinjak-injak! NKRI mau diganti dengan khilafah!” tandas Supriyadi.

“Apakah saudara ke sini ada paksaan? Tidak!!! Apakah saudara ke sini ada yang membayar? Tidak!” tanya Supriyadi dijawab oleh masa.

Usai berorasi, Supriyadi juga membacakan sebuah puisi berjudul; “Kita Satu Ibu” karya seniman Kota Semarang Agus Dewa.

Kemudian, Gus Ubaidillah yang merupakan tokoh agama dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Kota Semarang dalam orasinya mengaku bergetar saat melihat ribuan masa warga Kota Semarang hadir saat aksi 1.000 lilin di Kota Semarang.

Gus Ubaid menyatakan jika gerakan ormas Islam, termasuk FPI dan HTI tidaklah mewakili umat Islam di Indonesia secara keseluruhan.

“Saya gemetaran, semua datang bersama-sama. Kita kumpul bukan atas nama nomer togel 212. Kita berkumpul tidak untuk mencari nomor togel di bawah pohon. Berbicara bid’ah tapi dia bid’ah sendiri. Saya mewakili dari komunitas muslim, Islam saya adalah Islam Nusantara. Bukan Islam Arab Saudi, Yordania, Iran, juga bukan Islam Australia tapi Islam Nusantara, Islam Indonesia yang akan intim bersama-sama agama lainnya di negeri ini,” ujarnya.

Gus Ubaid juga menyatakan jika ormas-ormas islam yang menggelar gerakan aksi massa selama proses peradilan Ahok digelar, tidak menyadari jika ada kekuatan besar lainnya. Yaitu kekuatan yang muncul dari keberagaman suku, agama, ras dan adat menjadi satu melawan terhadap ketidakadilan dan ketidakjujuran yang menimpa Ahok.

Untuk itu, Gus Ubaid mengajak masa jika ada gerakan kembali yang dilakukan oleh ormas islam tersebut, maka dirinya bersama warga Kota Semarang akan bergerak bersama-sama melawan kekuatan itu.

“Kita berbicara atas cahaya jiwa kita untuk Indonesia, cahaya hati kita untuk kebangsaan kita. Mulai besok jika ada gerakan pakai nomer togel, kita bergerak bersama dalam satu perbedaan. Kenapa Indonesia lezat? Karena adanya perbedaan,” tandasnya.

[bal]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge