0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Eks Warga Magersari Nglano Tagih Janji Bupati

Warga magersari Pasar Nglano berada di lahan proyek revitalisasi pasar tradisional itu jelang pembangunannya pada tahun lalu. (Foto:Raymond)

Karanganyar – Merasa tak memperoleh kepastian usaha berdagang di Pasar Nglano, bekas warga magersari pasar tradisional itu mengadu ke kalangan DPRD. Mereka mengklaim berhak berjualan di pasar tradisional usai direvitalisasi.

“Dulu pak bupati bilang, semua bisa masuk. Baik itu pedagang maupun warga yang dulunya tinggal di area pasar. Namun setelah pasar selesai dibangun, kenapa malah pedagang lain yang masuk sedangkan kami tidak?” kata perwakilan eks warga magersari, Doniyanto kepada wartawan usai menggelar public hearing di gedung dewan, kemarin.

Ia mengklaim sebanyak 73 keluarga atau 218 jiwa yang dulunya menempati tanah pemerintah di Dusun Nglano Wetan, Desa Nglano, Tasikmadu ditelikung Pemkab Karanganyar. Saat sosialisasi pembangunan total Pasar Nglano tahun lalu, bupati Juliyatmono berjanji memberinya kesempatan kembali berjualan di pasar tradisional itu setelah proyek rampung.

Mereka biasa berjualan makanan di warung dan kelontong di dalam pasar maupun secara menyebar di gang-gang kampung sekitarnya.

“Pernah beraudiensi dengan pak bupati. Katanya akan memfasilitasi. Sampai sekarang tidak ada kejelasan. Makanya menyampaikan permasalahan ini ke DPRD,” katanya.

Penting diketahui, puluhan keluarga asal Rt 04,05 dan 12 Rw V tersebut digusur dari tanah milik pemerintah karena dipakai proyek revitalisasi Pasar Nglano. Secara normatif, mereka tinggal secara ilegal di lahan itu.

Oleh Pemkab, mereka diberi uang jaminan hidup Rp 588,6 juta yang dibagi sesuai kebutuhan makan per hari per jiwa selama empat bulan. Mereka juga dipersilakan tinggal di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Brujul, Jaten selama empat bulan. Hanya saja, kebanyakan mengambil uang jaminan hidupnya saja.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge