0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Gus Minging, Buah Manis dari Kerja Keras

(foto: David)

Timlo.net – Pria muda itu kelelahan luar biasa, setelah seharian bekerja menjadi kuli angkut barang. Dia butuh terapi untuk memulihkan stamina yang sudah berbulan-bulan didera penat. Tak dinyana, upaya mencari obat lelah berujung pada penemuan bisnis yang membuatnya menjadi miliuner.

“Sejak muda memang saya memimpikan bisa bekerja sambil menolong. Tidak mudah, tapi saya selalu yakin kerja keras akan berbuah manis,” tutur pria muda yang kini dikenal luas dengan nama Gus Minging, pemilik bisnis Nakamura The Healing Touch, baru-baru ini.

Kisah kesuksesan itu dimulai ketika tahun 2001 lalu Gus Minging menemani istri menempuh studi di Jepang. Sebagai lulusan Universitas Indonesia, dia berharap bisa mendapat pekerjaan kantoran di negeri Sakura, namun nyatanya hanya laku kerja kasar seperti loper koran, kuli angkut dan kerja berbasis otot lainnya.

Tak heran Gus kelelahan, dan sebelum benar-benar kelenger dia disarankan oleh istrinya untuk pergi ke perguruan gerak Kagoshima milik Hamada Sensei. Hasilnya, memang tubuhnya yang kaku menjadi terasa sehat, segar dan kembali bugar.

“Dari situlah saya tertarik untuk mempelajari ilmu menyehatkan badan melalui terapi,” ungkap Gus.

Rasa penasaran pria berkacamata ini akhirnya membawa ia bertemu dengan Miyata Sensei, seorang ahli bidang kebugaran. Di klinik tempatnya belajar, ternyata jauh dari perkiraan Gus. Alih-alih diajari melakukan terapi, dia malah disuruh membersihkan lantai, membereskan klinik, dapur, mencuci dan masih banyak yang lain.

Diperlakukan seperti itu, dia merasa dongkol dan sempat membolos beberapa hari. Namun, setelah belakangan dia sadar bahwa untuk mendapatkan suatu ilmu utama tidaklah gampang. Harus melalui ujian dan serangkaian cobaan agar ilmu yang digunakan bermanfaat.

“Akhirnya saya sadar dan mengikuti beliau selama dua tahun. Hingga tahun 2003 saya balik dari Jepang dan hidup di Jakarta. Saya mempraktikkan ilmu selama di Jepang, naik sepeda, melayani terapi dari rumah ke rumah. Sering dicemooh juga, lulusan UI kok jadi tukang pijat, tapi semua saya abaikan,” kata Gus mengenang.

Setelah merasa cukup, terbukti dengan banyaknya pasien yang merasa tertolong, setahun setelah menjalani hidup di Jakarta Gus memutuskan kembali ke Solo dan mencoba untuk mengadu nasib dengan membuka gerai terapi Nakamura di Jalan S Parman 47 Solo di kawasan Kestalan, tidak jauh dari Pasar Legi.

Nama Nakamura yang berbau Jepang, diakui memang diambil dari nama dua orang yang berjasa. Nakamura Momoe adalah kakak seperguruan yang banyak memberinya petunjuk saat belajar di Jepang. Sedangkan Nakamura Otosan adalah ayah angkatnya di Jepang.

“Memang ada maksud untuk memperjelas bahwa ilmu terapi saya bersumber dari negeri Jepang. Tapi juga nama Nakamura saya rasa mudah diingat oleh orang Indonesia,” paparnya.

Diawali dari satu kamar terapi dari bekas kamar tidur yang dirombak secukupnya, Nakamura berkembang terus, hingga Gus memberanikan diri untuk membuka gerai yang lebih besar. Dengan modal tabungan Rp 20 juta, dia melatih lima terapis untuk bisa melayani klien lebih banyak.

Hambatan utama adalah, persepsi miring tentang bisnis pijat yang cenderung identik dengan kemesuman. Namun, pada akhirnya orang sadar bahwa Nakamura beda.

“Bagaimana mau dibilang mesum, kan terapi Nakamura bahkan tidak membuka baju klien. Maka berikutnya tinggal membuktikan, Nakamura adalah terapi kesehatan. Cocok dengan kebutuhan masa sekarang, di mana banyak orang bekerja sangat keras, mereka memerlukan terapi untuk menjaga kebugaran dan memulihkan stamina,” ujar Gus.

Sejak tahun 2006, Nakamura berkembang menjadi bisnis waralaba. Hingga saat ini, jumlah gerai sudah di atas 20, setengahnya dioperasikan sendiri dan selebihnya waralaba.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge