0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kronologi Penyetruman Siswa SD Versi Orangtua

Timlo.net – RA, salah satu korban tindakan penyetruman listrik oleh kepala sekolah berinisial TJY, menuturkan peristiwa yang dialaminya. Dia disetrum bersama tiga rekan lain, MK, MZ dan MA dengan dalih terapi kesehatan.

RA menceritakan kejadian itu kepada sang ibu, AN. Penyetruman berlangsung hari Selasa (25/4). RA bersama ketiga temannya diminta ke musala usai salat duha.

“Empat anak disuruh ke musala, yang lainnya kembali. Anak-anak yang lain penasaran melihat dari balik kaca. Dua anak disuruh ambil kursi di ruang kepala sekolah,” kata AN, ibu dari RA, Selasa (2/5).

Mereka diminta meditasi dan mendengarkan ceramah kepala sekolah. Setelah itu, dengan sebuah alat yang ditancapkan ke stop kontak, kepala sekolah melakukan penyetruman.

“Dikasih ceramah, yang kedua dikasih permainan dan meditasi duduk bersila. Anak-anak diminta menutup mata, perjanjiannya kalau buka mata akan ditempeleng, ada ancaman seperti itu,” cerita AN.

Anak-anak tidak berani membuka mata. Saat itulah anak didorong ke depan dalam posisi meditasi duduk di atas kursi berhadapan dengan kepala sekolah. Satu kabel diinjak Kepala Sekolah dan satunya oleh anak-anak. Sebuah taspen didekatkan di kepala. Dia menirukan ucapan yang disampaikan kepala sekolah.

“Kalau menyala pijar berarti banyak bohongnya. Katanya itu terapi tes kebohongan kalau kepada anak-anak. Tetapi kalau kepada ke wali murid terapi kesehatan,” ucapnya.

Akibat kejadian tersebut para korban mengalami trauma dan sakit. RA sempat mengalami pusing dan mimisan.

“Semula anak saya tidak cerita, dia mengaku pusing dan tangannya sakit, katanya habis disetrum. Saya kira cuma setrum kejut saja. Tidak sampai sejauh itu,” kata AN.

AN mengetahui anaknya menjadi korban keesokan harinya saat mendapat cerita dari teman-teman korban. Cerita semakin lengkap saat orang tua wali yang lain juga menanyakan kejadian tersebut. Sehingga dilakukan klarifikasi ke sekolah bersama keempat wali murid korban yang lain yakni MK, MZ dan MA.

“Saat dikonfirmasi, wali kelas meminta maaf. Katanya tidak tahu. Kamis saya ke sekolah, beserta tiga orang wali murid. Bilangnya itu terapi,” katanya.

AN menceritakan, saat itu kepala sekolah mengaku spontan menunjuk keempat siswa tersebut. Katanya akan dilakukan tiga hari berturut jika tidak ada perubahan. Pihak sekolah menandatangani surat pernyataan bermaterai yang mengakui kesalahan.

“Sekolah mengakui kesalahan, itu katanya terapi, tapi terapi apa tidak disampaikan,” katanya.

Wali murid mengaku tidak pernah diajak komunikasi apapun dan merasa tidak ada yang salah dengan anak-anak mereka. Justru akibat kejadian tersebut RA menjadi trauma dan ketakutan.

“Kita tidak terima. Kok enak betul. Ibu bukan untuk mendidik. Padahal kurang dua minggu anak-anak mau ujian. Kalau nilai anak saya jelek bagaimana, mereka tanggung jawab?”

[cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge