0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenang Bambang Gentolet, Pelawak yang Selalu Up To Date

Bambang Gentolet dimakamkan di Surabaya (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Pelawak legendaris, Kasbianto meninggal dunia karena sakit. Salah satu pemain Srimulat dengan nama panggung Bambang Gentolet itu mengembuskan napas terakhir satu jam setelah dirawat di Rumah Sakit (RS) Bakti Dharma Husada Surabaya, Jawa Timur pada Kamis malam (27/4).

Pelawak kelahiran Yogyakarta, 30 Juni 1941 dan menghabiskan hidupnya di Kota Pahlawan itu, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Babad Jerawat, Benowo, Surabaya, usai Salat Jumat, sekitar pukul 13.00 WIB.

Anak pertama Bambang, Winarti mengaku kehilangan sosok ayah pekerja keras. “Tak ada firasat apa-apa, tapi dua hari sebelum meninggal sempat mengeluh sesak napas,” kata Winarti dengar raut wajah berduka.

Salah satu tetangga Bambang juga menceritakan hal yang sama. Sebelum meninggal dunia, dia sempat bercanda dengan para tetangganya di Manuan Tengah III Blok 6 i/1 Surabaya.

Kemudian Kamis malam sekitar pukul 19.00 WIB, Bambang mengeluh sesak napas. Untuk selanjutnya almarhum dibawa ke RS Bakti Dharma Husada pada pukul 21.00 WIB. Komedian Srimulat sezaman dengan Tarzan, Tessy, Asmuni dan lain-lain itu, meninggal dunia sekitar pukul 22.00 WIB.

Seniman Ludruk Jawa Timur, Dewi Wati Agustini mengatakan, pelawak dengan khas rambut kuncung itu sudah terjun di dunia lawak sejak masih sekolah SMP di Yogyakarta.

Kemudian dia mulai dikenal dan kerap manggung di Jawa Timur sejak bergabung dengan Grup Lokakarya, yang berbasis di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada 1967.

Setelah keluar dari Lokakarya, Bambang bergabung Srimulat yang bermarkas di Solo. Saat grup ini pindah ke Surabaya, Bambang ikut hijrah dan menetap di Kota Pahlawan hingga meninggal dunia.

Terakhir Bambang dipercaya mengisi acara ‘The Gentolet’ di salah satu stasiun televisi lokal di Surabaya. “Almarhum adalah mentor ludruk dan lawakan bagi seniman Jawa Timur. Saya sendiri sangat mengaguminya dan mengganggapnya sudah seperti orang tua. Saya manggilnya saja ayah,” aku Dewi Wati Agustini.

Dan yang menjadikan Bambang tetap laku di dunia lawakan, meski sudah tidak bergabung dengan Srimulat, lanjut Dewi, karena Bambang pandai meramu komedinya sesuai perkembangan zaman.

“Almarhum selalu up to date kalau sudah berada di atas panggung. Itulah kenapa para pelaku seni peran, hormat kepadanya,” tutur Dewi.

Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia Jawa Timur, Nonot S Mono juga mengatakan hal senada, di mata seniman, almarhum adalah sosok bersahaja. “Hidupnya diabdikan untuk kesenian, khususnya seni drama lawakan. Selalu ada nasihat dalam lawakannya,” pungkasnya. [cob]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge