0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Marita Lorenz, Mantan Kekasih yang Nyaris Membunuh Fidel Castro

Dok: Timlo.net/ The Tin Whistle.
Marita Lorenz dan Fidel Castro. (Dok: Timlo.net/ The Tin Whistle. )

Timlo.net—Cintanya kepada Fidel Castro nyaris membunuh pria itu. Wanita asal Queens, New York, Amerika Serikat (AS) itu mengaku melahirkan anak dari hubungannya dengan Fidel pada 1959 sebelum mencoba membunuhnya. Sekarang dia berduka karena kematian mantan kekasihnya itu. Putera Marita, Mark Lorenz berkata jika ibunya berduka atas kematian cinta pertamanya itu.

“Dia sedikit terkejut, berusaha mencerna kabar berita itu,” kata Mark.

Wanita kelahiran Jerman itu berusia 19 tahun saat pertama kali bertemu Fidel di kapal pesiar milik ayah Marita pada 1959 yang berlabuh di Havana, Kuba. Mereka saling menyukai, dan Fidel menerbangkan Marita dari Kuba ke New York beberapa minggu kemudian.

“Saya pergi ke Kuba berpikir jika hanya akan memakan waktu dua minggu. Tapi ternyata tidak demikian,” katanya.

Dia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk berpergian bersama Fidel. Departemen Luar Negeri AS bahkan menyebut Marita sebagai Ibu Negara Kuba. “Saya hamil segera setelah itu dan saya malu pulang kepada orang tua saya,” kata Marita.

Pada usia kehamilan tujuh bulan, Marita mengaku jika dia dibius dan dibawa ke hotel the Havana Hilton dan dibawa ke lokasi lain di mana para penculiknya memaksanya melahirnya lebih awal dan mencuri bayinya. Tapi dia tidak menyalahkan Fidel atau anak buahnya.

Sebuah artikel yang terbit di Vanity Fair pada 1993, mengungkap bukti jika Marita melakukan aborsi di Havana yang menyebabkan komplikasi. Dan dia memerlukan perawatan medis lebih lanjut di New York.  Setelah kembali ke New York, ibu Marita yang bekerja sebagai mata-mata mendesak puterinya itu untuk mengkhianati Fidel. “Mereka menggunakan saya karena saya adalah satu-satunya yang bisa kembali ke tempat tidurnya,” kata Marita.

Di akhir 1959 atau awal 1960, Marita kembali bertemu dengan Fidel di the Havana Hilton. CIA menyertakan Marita dalam plot untuk membunuh Fidel dengan racun. Tapi rencana itu benar-benar gagal. Pil itu larut di krim wajah di mana Marita menyimpannya. Dia ketakutan dan Fidel tahu jika wanita itu berniat membunuhnya.

Fidel mengeluarkan pistol kaliber 45 miliknya. “Kamu tidak bisa membunuhku. Tidak ada seorang pun bisa membunuhku. Dan dia terlihat seakan tersenyum dan mengunyah cerutunya. Saya merasa down. Dia begitu yakin soal saya. Dia lalu menangkap saya. Kami bercinta setelah itu,” jelas Marita.

Marita juga mengaku jika dia bisa bertemu dengan bayinya dengan Fidel. Seorang anak pria yang dinamai Andre. Dia bertemu dua kali, di mana pertemuan terakhir terjadi pada 1981. Frank Sturgis yang menyakinkan Marita terlibat dalam usaha pembunuhan itu meratapi gagalnya usaha itu. Kepada Vanity Fair, dia mengaku jika usaha pembunuhan itu nyaris berhasil.

“Fidel akan meniduri seekor ular jika ular itu bergerak. Dia adalah salah satu ular itu. Saya mencoba memintanya meracuni Fidel, tapi dia mundur karena dia jatuh cinta dengan kep**t itu,” kata Frank.

Frank sendiri kemudian terlibat dalam kasus Watergate. Marita sendiri tidak mencoba hidup dalam sorotan setelah usaha pembunuhan itu. Buku kisah hidupnya juga mengisahkan hubungannya dengan ditaktor Venezuela Marcos Pérez Jiménez dan kesaksian sebelum komite kongress menyelidiki pembunuhan John F. Kennedy.

Pada 1993, dia tinggal di Queens dan kesulitan bertahan hidup. “Saya butuh pekerjaan dan bukan pekerjaan di bidang mata-mata. Punya tagihan biaya sewa lebih buruk dibandingkan bekerja untuk CIA..saya dijuluki pembunuh dan mereka tidak bisa memperoleh pekerjaan yang baik di New York,” katanya.

Sumber:NYDailyNews.

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge