0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Potensi Kurang Tergarap, Begini Curhat Pengrajin Wayang Klitik

Suparno, pengrajin wayang klitik (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Desa Gemampir, Kecamatan Karangnongko, Klaten ternyata tidak hanya dikenal sebagai penghasil buah durian. Namun, ada puluhan warganya yang menggantungkan hidup sebagai pengrajin wayang gedog atau klitik. Meski demikian, para pengrajin wayang berbahan kayu ini kurang diperhatikan pemerintah kabupaten (Pemkab) Klaten.

“Di Gemampir itu ada 50 pengrajin. Tapi ya itu, (potensinya) enggak digarap pemerintah,” ungkap salah seorang pengrajn wayang klitik setempat, Suparno (54), Senin (17/10).

Menurut pengrajin sekaligus dalang asal Dukuh Gentan ini, instansi terkait yakni Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Disperindagkop UMKM) enggan menyapa dan memberdayakan pengrajin setempat. Sebaliknya justru memihaki UMKM yang sudah memiliki pasar, terkenal, atau telah memiliki nama.

“Cuma didaftar saja jumlahnya. Tapi ya mbok datang ngecek kesini. Gemampir sungguh ada pengrajinnya enggak. Karena karakternya (pengrajin) berbeda-beda. Ada yang bisa sungging, tatah, membuat mentahan, dan seterusnya,” ujarnya.

Potensi kerajinan wayang klitik asal Klaten ini dibuktikan Suparno dengan penghargaan juara dua Citi Microentrepreneurship Award (CMA) bagi pelaku UMKM di Jakarta 2011 silam. Bahkan pada 1985 ia pernah menjual sebuah wayang klitik raksasa setinggi 4,15 meter  tokoh Arjuna ke seorang bule asal Prancis.

“Sekarang ada atau tidak (perhatian), kami ya jalan terus. Yang pentung kerajinan kami laku dijual,” tandas Suparno yang setiap sebulan sekali menerima pesanan 50 wayang klitik dari Bali.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge