0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Rumah Deret Membelakangi Sungai Dikritik

timlo.net/ichsan rosyid
Rumah deret yang berada di belakang Pura Mangkunegaran (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Pembangunan rumah deret di sepanjang aliran sungai Pepe mendapat kritikan dari kalangan akademisi. Pasalnya, rumah deret yang telah selesai dibangun di Jalan RM Said dan Jalan Saharjo didesain dengan sisi depan bangunan membelakangi sungai.

“Dengan asumsi orang indonesia kurang disiplin. Pembangunan rumah deret yang membelakangi sungai harus diubah. Kecuali masyarakat betul-betul disiplin. Saya tidak tahu kondisi masyarakat di sini,” kata salah satu dosen senior di Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Built Environment, Universiti Teknologi Malaysia, M.Sc B.Eng Ariva Sugandi Permana PhD kepada timlo.net, Sabtu (15/10).

Berdasarkan pengalaman di berbagai daerah di Indonesia, hampir setiap sungai yang berada di belakang pemukiman (river in backyard) kondisinya sangat memprihatinkan. Tumpukan sampah di sungai seolah bukan menjadi masalah yang penting.

Lain halnya bila sungai berada di depan pemukiman (riverfront) seperti di Karangwaru Yogjakarta dan Ciliwung Epicentrum, sungai-sungai di kawasan tersebut relatif bersih dari sampah.

“Kesadaran masyarakat dan komitmen pemerintah kita terhadap sungai masih kurang,” kata dia.

Kondisi di negara-negara maju jauh berbeda. Sungai di depan atau di belakang rumah tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

Tidak ada sampah yang di aliran sungai. Kawasan bantaran dan sempadan sungai pun terawat dan berfungsi dengan sangat baik. Hal ini lantaran masyarakat yang disiplin dan sadar akan pentingnya sungai.

“Kalau masyarakat kita disiplin tidak akan seperti itu (ada sungai yang kotor),” kata dia.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Solo sendiri sejak beberapa tahun terakhir memberikan perhatian lebih terhadap sungai-sungai di Kota Bengawan. Program-program revitalisasi sungai mulai digencarkan melibatkan warga yang tinggal di sekitar DAS.

Akademisi asal Indonesia yang kini tinggal di Malaysia itu mengapresiasi program-progam tersebut.

“Tapi itu saja tidak cukup kalau sifatnya angin-anginan. Harus kontinyu dan menjadi budaya. Dan tidak hanya membersihkan, pemerintah dan warga harus mencintai dan punya rasa memiliki sungai,” tambahnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge