0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Yayasan Sabila Kembangkan Seni Membatik Al Quran

Seorang anggota Yayasan Sabila Indonesia sedang menebalkan huruf Al Quran di atas kain raksasa (timlo.net/achmad khalik)

Solo – Yayasan Seratan Al Quran Batik Laweyan (Sabila) Indonesia mengembangkan seni membatik Al Quran. Seni ini merupakan padupadan antara cara pembuatan batik dan penulisan huruf Al Quran.

“Secara sederhana, seni ini memadukan proses pembuatan batik dengan menggunakan canting diatas lembaran kain yang berisi ayat suci Al Quran,” terang Ketua Yayasan Seratan Al Quran Batik Laweyan (Sabila) Indonesia, Alpha Fabela Priyatmono di sela-sela launching Batik Quran di Masjid Laweyan, Minggu (9/10).

Batik Al Quran yang dibuat ini ditorehkan di atas kain warna putih berukuran 100 centimeter (cm) x 115 cm dengan 30 juz yang kemudian di jilid. Ini bukan untuk baju atau lukisan tapi ini Al Quran 30 juz, nantinya akan ditaruh di Masjid Laweyan yang merupakan masjid tertua di Solo.

“Ini terinspirasi dari adanya program membaca Al Quran sambil menulis. Dengan menulis Al Quran menggunakan sarana membatik ini, tanpa disadari mendidik supaya lebih sabar dan teliti,” terangnya.

Disinggung terkait proses penulisan, Alpha mengaku Al Quran yang sudah standar lalu diperbesar sehingga tidak mengubah sama sekali. Tulisan Quran yang sudah besar itu lalu diblat atau dicoret di atas kain warna putih, yang ngeblat itu dari takmir masjid atau pondok pesantren. Setelah selesai di blat lalu di batik oleh para pembatik prosesional yang ada di Kampung Batik Laweyan jadi tidak boleh sembarangan, kemudian baru di warna.

“Ini sudah kali kedua. Kali pertama gaya penulisannya versi Kudus, sudah berjalan beberapa juz. Kalau yang ini versi standart internasional atau jenis Utsmani,” terangnya.

Rencananya, setelah penulisan Al Quran ini selesai akan langsung dipamerkan di tengah masyarakat.

“Sebelum keluar, nanti kita teliti dulu. Setelah itu, dipamerkan kepada masyarakat,” katanya.

Sementara itu Pembesar Keraton Kasunanan Surakarta, GPH Dipokusumo menyatakan jika batik itu warisan budaya yang cukup luar biasa. Adanya proses pengembangan batik dengan tulisan Al Quran cukup bagus, hanya saja perlu hati-hati saat membuatnya.

“Proses pembuatan harus hati-hati dan teliti. Ini salah satu untuk pengembangan agama Islam dan sebagai khazanah budaya juga,” terangnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge