0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Seorang Pendaki Semeru Meninggal

Gunung Semeru (merdeka.com)

Timlo.net – Seorang pendaki Gunung Semeru, Sahat M Pasaribu (23), meninggal dunia dalam perjalanan pendakian ke puncak. Pendaki asal Jawa Barat ini meninggal dunia sekitar pukul 00.20 WIB setelah sebelumnya mengeluh sakit dan muntah-muntah. Korban meninggal dunia dalam upaya pertolongan yang dilakukan teman-temannya dan tim bantuan.

“Korban saat ini masih di rumah sakit umum Lumajang menunggu keputusan keluarga,” kata Anton Hartadi, Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Malang, Sabtu (7/10).

Sahat M Pasaribu tercatat sebagai warga Sidomukti RT 03/ RW 22 Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat. Korban mengawali pendakian bersama 12 orang teman-temannya Rabu (5/10) pukul 16.00 WIB. Sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan mendirikan tiga tenda di sekitar Shelter 4 Ranu Kumbolo.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Kalimati pada Kamis (6/10) pukul 11.00 WIB. Rombongan terbagi dalam dua kelompok, dan kelompok Sahat bersama 11 orang lainnya, tiba di Kalimati sekitar pukul 16.00 WIB.

Saat malam tiba dalam suasana hujan gerimis, korban mengeluh masuk angin. Korban juga hanya makan sedikit, sebelum kemudian minta dikerik untuk mengurangi rasa sakit. Sahat malam itu bisa istirahat hingga pagi di tenda.

Jumat (7/10), sekitar pukul 08.00 WIB, korban keluar tenda sambil muntah-muntah dan mengeluh pusing. Tim saat itu memasak dan sebagian packing untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Mahameru. Setelah makan bersama-sama, sekitar pukul 12.30 WIB rombongan melanjutkan perjalanan ke Ranupane.

Namun baru berjalan sekitar 200 meter dari Pondok Kalimati (sekitar plang penunjuk arah ke Kalimati), korban tidak kuat berjalan. Korban kemudian berusaha digendong, tetapi karena kondisi fisik teman-temannya, hanya mampu berjalan tidak jauh dari lokasi semula.

Tiga orang teman korban, yakni Luki Prasetya, Okky Rahmawati dan Dimas Regaelon berusaha meminta bantuan ke Ranupane. Sementara anggota lainnya berusaha membawa korban dengan tandu menuju Jambangan.

Selama perjalanan menuju Jambangan, korban terus muntah-muntah. Begitu tiba di Jambangan dan mendirikan tenda, korban diolesi minyak kayu putih. Sekitar pukul 18.00 WIB, korban diberi makan malam, namun hanya sedikit yang masuk.

Saat itu korban juga minum obat penurun panas sambil menunggu bantuan dari Ranupane. Namun kondisinya semakin parah, pukul 19.00 WIB, Muhammad Taufik dan Rahman Arruyyan turun ke Ranupane untuk meminta bantuan.

Korban tidak bisa bernapas, tubuh panas, suaranya mendadak serak dan tidak bisa diajak komunikasi. Korban tidur dengan dua sleeping bag dan berselimut.

Sabtu (8/10) sekitar pukul 00.15 WIB, empat orang tim evakuasi datang dan memberikan oksigen. Tetapi napas korban semakin tidak teratur dan sekitar pukul 00.20 WIB napas korban terhenti dan dinyatakan meninggal dunia.

Sekitar pukul 01.30 WIB, setelah melakukan packing dan membuat tandu, korban selanjutnya dibawa turun. Sekitar pukul 09.40 WIB, tiba di Ranupane.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge