0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Solo Smart City, Impian yang Semakin Dekat

Ruang ccroom (foto: David)

Timlo.net – Istilah Smart City kian gencar terdengar terutama bagi pemerhati pembangunan kota. Negara-negara maju dan berkembang seolah berlomba-lomba membangun kota-kota pintar di negara masing-masing. India, berambisi membangun 100 smart city sebelum tahun 2022. Negara-negara lain seperti Singapore, Korea, Inggris, Amerika, dan sejumlah Negara Eropa bahkan sudah lebih awal.

Smart city merupakan konsep yang berkembang di awal 2000-an. Idenya adalah mengelola aset kota seperti jalan, sanitasi, rumah sakit, sekolah, pasar, dan lain sebagainya termasuk berbagai layanan publik, memanfaatkan kemajuan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK) daninternet of things.

Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi pelayanan publik dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola kota.

Di dalam Negeri, Kota Solo merupakan salah satu kota pertama yang mengadopsi konsep Smart City. Solo memang baru tahun lalu menerima Penghargaan Smart City dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Namun mimpi membangun Solo menjadi kota pintar sudah dimulai sejak 2010 di bawah kendali dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dsihubkominfo) Solo.

Dimulai dari manajemen rekayasa lalu lintas

Dimulai dengan penerapan Inteligent Transport System (ITS) dalam manajemen rekayasa lalu lintas batu bata pertama yang membentuk Sistem Smart City di Solo. Sejak ITS diterapkan, Dishubkominfo mengklaim pemanfaatan sumber daya manusia untuk mengatur lalu lintas di Solo meningkat tajam. Cukup tiga atau empat orang petugas di central control room (cc-room) untuk mengendalikan 42 simpang di Solo dalam kondisi normal.

Petugas baru diterjunkan di lapangan bila kondisi terlalu padat sehingga sulit diintervensi dari cc-room. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan tanpa bantuan teknologi.

“Kita mulai dari itu karena memang itu yang paling siap dibanding yang lain,” kata Kepala Dishubkominfo Solo, Yosca Herman Sudrajat ketika ditemui TimloMagz di ruang kerjanya.

Dari tahun 2010 sampai 2014, perkembangan Solo menuju Smart City memang belum tampak nyata. Smart City masih berupa wacana terutama di sektor-sektor lain. Yosca meangkui, tahun-tahun itu memang Smart City masih dalam tahap penyusunan konsep. Ibarat bangunan, Solo sebagai Smart City masih berada di meja gambar.

“Baru tahun 2014 kita meluncurkan aplikasi Solo Destination itu. Di situlah intinya Smart City. Semua informasi tentang Kota Solo bisa diketahui dalam satu genggaman,” terangnya.

Solo Destination sebagai Dashboard

Ya, tahun 2014, bertepatan dengan ulang tahun ke-4 Solo Car Free Day, Pemerintah Kota Solo meluncurkan aplikasi Solo Destination di perhelatan CFD Slamet Riyadi. Aplikasi itulah nantinya yang akan menjadi dashboard bagi masyarakat untuk mengakses informasi yang terkumpul dari sistem Smart City di Solo.
Di awal peluncurannya, tak banyak fitur yang tersedia dalam aplikasi tersebut. Hanya pantauan cc-tv di persimpangan-persimpangan penting di Solo dari ITS Dishubkominfo serta sekelumit informasi wisata dan kuliner di Solo.

Namun sejak akhir tahun lalu, fitur aplikasi yang digadang menjadi pusat informasi tenang Solo untuk publik itu terus bertambah. Mulai dari informasi tempat-tempat fasilitas umum seperti rumah sakit, ATM, pompa bensin, dan lain sebagainya mulai ditambahkan. Harga komoditas di pasar tradisional pun bisa diakses dari aplikasi tersebut.

Pada update terakhirnya di akhir September lalu, Solo Destination menambahkan fitur yang cukup penting yaitu integrasi Sistem Penanggulangan Pasien Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dari Dinas Kesehatan Kota Solo. Dengan fitur tersebut, publik bisa memantau secara real time ketersediaan kamar kosong di 12 rumah sakit di Solo.

“Jadi sebelum ke rumah sakit, orang bisa lihat dulu mana rumah sakit terdekat yang masih punya kamar kosong. Selain lebih efisien, juga lebih transparan. Jangan sampai sebenarnya ada kamar kosong tapi dibilang penuh karena tidak mau menangani pasien,” kata Yosca.

TPS Mobile Pintar

Sebelumnya, di awal bulan September, Kelurahan Ketelan meluncurkan pilot project Tempat Pembuangan Sampah Mobile Pintar. Sistem tersebut cukup sederhana. Mobil-mobil pengangkut sampah di Kelurahan tersebut kini dilengkapi dengan GPS yang bisa dilacak melalui aplikasi khusus. Dari aplikasi itu, Lurah Ketelan bisa memantau lokasi TPS mobil secara real time. Informasi jam keberangkatan juga bisa diketahui sehingga Lurah bisa menegur bila petugas pemungut sampah terlambat berangkat. Lurah juga akan mendapat pemberitahuan bila ternyata petugas kedapatan berhenti terlalu lama di satu titik atau keluar dari wilayah yang ditetapkan. Fitur ini biasa disebut geofencing.

“Kalau ada masalah di jalan atau misalnya mobil disalahgunakan untuk kepentingan lain, kita bisa tahu dan bisa langsung ditegur,” kata lurah Ketelan, Evi Mahanani.

Saat ini TPS mobil memang masih dalam tahap uji coba di Kelurahan Ketelan Saja. Itu pun, baru lurah saja yang bisa memantau TPS seperti digambarkan di atas. Namun Kasi Jaringan Informasi dan Komunikasi Publik, Taufan Redina Adi Pratama menjanjikan, akses ke informasi tersebut akan dibuka ke publik sebelum akhir tahun. Tentunya, ke depan semua TPS mobile di solo juga akan menerapkan sistem yang sama.

“Jadi nanti masyarakat bisa tahu TPS sudah sampai mana, kira-kira nanti sampahnya diambil jam berapa,” kata Taufan.

Rampung 2018

Yosca sendiri mengakui, Solo Smart City masih belum sempurna. Bahkan ITS yang dibanggakan Dishubkominfo itu diakui Yosca belum sepenuhnya sesuai dengan yang ia harapkan. Cukup berhasil tapi belum sepenuhnya, begitu ia menggambarkannya. Permasalahan utamanya, menurut Yosca adalah akurasi data yang dimiliki Pemerintah.

“Jumlah kendaraan bermotor di Solo saja kita nggak tahu secara pasti ada berapa,” kata dia.

Masalah ini bukan masalah yang sederhana bila berhubungan dengan bidang TIK. Sejak awal perkembangan teknologi digital dikenal sebuah adagium Garbage in garbage out (bila sampah yang masuk, maka sampah yang akan keluar). Artinya, bila kualitas data buruk, maka hasil perhitungan yang diperoleh dari sistem komputasi digital juga akan buruk, secanggih apapun teknologi yang digunakan.

“Ya akhirnya kita bekerja dengan data seadanya. Itu pun sudah cukup berhasil mengurai lalu lintas di Solo. Bayangkan kalau kita bisa memantau pergerakan semua kendaraan di Kota Solo secara akurat. Kita bisa lebih efisen lagi,” kata dia.

Selain kendala mutu data yang buruk, kendala lain yang menjadi tantangan Pemkot dalam mewujudkan Solo sebagai Smart City adalah sumber daya manusia di pemerintah dan lembaga-lembaga terkait yang belum siap. Menurut Yosca, belum semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Solo siap menyesuaikan pola kerja lama yang masih serba manual ke sistem digital.

Mengubah pola kerja yang telah bertahun-tahun dijalani memang bukan hal yang mudah. Bahkan ketika perubahan itu menjadi lebih mudah dan cepat, tetap saja diperlukan waktu dan upaya untuk mempelajari hal baru dan menyesuaikan diri.

“Mindset sumber daya manusia kita ini yang paling sulit. Masih banyak yang berpikir, wong dengan cara ini saja tidak ada masalah kok, kenapa harus pakai cara baru. Lha ini kita bersama Dinas-dinas lain dibantu Pak Wali terus berupaya menyadarkan,” kata Yosca.

Ia menjanjikan pada tahun 2018 nanti, seluruh komponen yang akan terintegrasi dalam sistem Smart City di Solo akan rampung. Publik bisa mengakses semua informasi yang tersedia melalui aplikasi Solo Destination. Diharapkan di tahun 2018 nanti ada setidaknya 18-20 kategori informasi yang bisa diakses publik. Saat ini, baru ada 12 kategori.

Selain itu, Dishubkominfo juga menyiapkan dashboard khusus yang bisa diakses melalui komputer maupun smartphone bagi para pejabat. Pemegang kebijakan bisa membuat keputusan yang lebih akurat dengan informasi yang lebih lengkap dan komprehensif dari berbagai sektor. Semua tersaji dalam satu dashboard Solo Smart City yang bisa diakses oleh para pembuat kebijakan.

“Nanti semua terintegrasi dalam satu dashboard khusus. Walikota dan para pejabat bisa memantau semua dinas lewat situ, misalnya informasi TPS mobil yang bergerak hari ini berapa, retribusi yang sudah terserap berapa persen, konsumsi lisrik untuk penerangan jalan umum, dan lain sebagainya semua bisa dilihat di situ., Solo Destination,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge