0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Lebih Dekat Bersama Yosca Herman Sudrajat

Ilmu Hasil Nyantri untuk Membenahi Kota Solo

timlo.net/ichsan rosyid
Kepala Dishubkominfo, Yosca Herman Sudrajat (timlo.net/ichsan rosyid)

Timlo.net – Wong Solo mudah mengenali sosok berkumis tebal ini. Di hari kerja, dia sering muncul berbalut seragam biru abu-abu, sedangkan di hari Minggu hampir tak pernah absen dia berkostum olah raga, menunggui event Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi dan memastikan semuanya berjalan lancar.

Pejabat yang energik dan seperti tak kenal lelah, itu kesan pertama tentang seorang Yosca Herman Sudrajat, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Solo.

“Didikan keluarga, saya mendapat bekal disiplin dan cinta tanah air dari ayah saya, seorang penerbang TNI. Sedangkan kakek saya menurunkan nilai-nilai keagamaan yang kuat,” tutur Yosca saat berbincang dengan TimloMagz.

Dari luar barangkali tak banyak yang mengira Yosca ternyata memiliki latar belakang agama yang kental. Sejumlah orang yang telah mengenalnya beberapa tahun pun bahkan sempat kaget ketika tahu bahwa Yosca seorang muslim.

Namun siapa sangka, pria penggemar sepak bola itu ternyata sempat nyantri di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta selama 6 tahun. Bahkan sempat menjadi komandan pasukan Barisan Anshor Serbaguna Nahdhotul Ulama di tahun 80-an.

Pria kelahiran 31 Maret 1962 itu mendapat gemblengan nasionalisme pertama kali dari keluarganya. Bapaknya seorang Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Seorang pilot. Dari sang ayah, ia sering mendapat pendidikan tentang cinta tanah air dan selalu didorong untuk mendukung pemerintah. Di masa mudanya, ia mengaku sempat menjadi anggota laskar.

“Saya dulu keras. Sempat jadi anggota laskar tapi tidak melawan pemerintah. Kita justru membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan yang ada di bawah yang belum tertangani. Karena Bapak dulu selalu berpesan bahwa pemerintah itu harus dibantu. Tidak bisa pemerintah berjalan sendiri,” kata Yosca.

Keterlibatannya di gerakan keagamaan barangkali tak lepas dari peran eyangnya. Di masa kecil, kata Yosca, ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita dari eyangnya mengenai kisah-kisah para nabi, sahabat dan wali-wali. Ia bisa berjam-jam mendengarkan eyangnya menceritakan perjuangan para tokoh itu menyebarkan agama dan membangun masyarakat.

“Kalau eyang cerita, bisa melekan (begadang) sampai pagi nggak tidur,” kata dia.

Dari situ, ia kemudian terdorong untuk terus mendalami agama. Selepas SMA, ia melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Namun, selama kuliah, banyak waktu yang menurutnya terbuang sia-sia karena harus dalam satu minggu hanya beberapa hari ia aktif kuliah. Waktu luang inilah yang ia manfaatkan untuk mendalami agama di Krapayak, Yogyakarta.

“Dulu kuliah tidak setiap hari masuk. Kalau pas tidak ada kuliah saya ke pesantren. Menurut saya itu penting karena ini kebutuhan batin. Kalau kuliah kan untuk memenuhi kebutuhan materiil,” kata dia.

Tak puas hanya mendalami agama, ia pun mulai melibatkan diri dalam Banser Nahdlotul Ulama (NU). Di situ, ia banyak terlibat dalam misi-misi kemanusiaan di Banser. Karirnya di organisasi itu cukup cemerlang. Ia bahkan sempat menjadi komandan karena dinilai mampu mengkoordinir teman-temannya. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk belajar mengorganisir orang banyak.

“Saya banyak belajar di situ bagaimana mengarahkan orang. Bagaimana menghadapi orang ngeyel, bagaimana berhadapan dengan orang banyak,” kata dia.

Yosca sendiri mengaku masa-masa nyantri dan menjadi komandan banser itu cukup berpengaruh dalam hidupnya. Ia menjadi termotivasi untuk terus berbuat baik untuk orang lain. Menurutnya, itulah inti dari orang beragama. Bermanfaat untuk orang lain. Bukan hanya sekadar hidup untuk memenuhi kebutuhan pribadi.

Hal itu bisa dilihat dari prestasinya selama menjabat menjadi Kepala Dishubkominfo. Sejak dipimpinnya, dinas yang berkedudukan di Manahan itu berkembang pesat. Alih-alih hanya menjalankan rutinitas sehari-hari, ia mengebrak dengan program-program baru yang inovatif. Beberapa di antaranya adalah Ingegrated Transport System yang menjadi tulang punggung pengendalian lalu lintas di Solo. Program ini dibuat di tahun yang sama Yosca di angkat menjadi Kepala Dinas, tahun 2006.

“Sebenarnya sejak 2002 saya sudah gregeten kepengen membenahi. Tapi saya waktu itu masi Kasubdin Lalu Lintas. Dari Walikota juga tidak ada dukungan. Begitu Walikota dipegang Pak Jokowi, dan saya jadi Kepala dinas, langsung kita tancap gas,” kata dia.

Tak hanya itu, beberapa program yang menjadi ikon kota Solo juga dibidani dinas yang dipimpinnya. Sebut saja Solo Car Free Day, Sepur Kluthuk Jaladara, Bus Pariwisata Werkudara, Pembangunan terminal Tirtonadi dan lain sebagainya. Semua lahir di bawah komandonya sebagai Kepala Dishubkominfo.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge