0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemkab Wonogiri Gelar Jamasan Pusaka dan Ruwatan

dok.timlo.net/tarmuji
Prosesi ruwatan di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Bersamaan dengan bulan Suro, Pemkab Wonogiri menggelar seabreg even wisata dan budaya. Seperti pekan depan, di Obyek Wisata Sendang Asri (OWSA) Waduk Gajah Mungkur, beberapa prosesi tradisi Jawa bakal digelar.

Prosesi budaya Jawa yakni pada Minggu (16/10) digelar prosesi kirab pusaka, kemudian dilanjutkan jamasan pusaka milik Mangkunegoro I, lalu ruwatan massal. Kirab pusaka itu diikuti beberapa kecamatan seperti Kecamatan Selogiri, Girimarto dan Wonogiri. Dari tiga kecamatan ini menyimpan tiga benda pusaka peninggalan Mangkunegoro I atau Pangeran Sambernyawa.

Ruwatan sendiri erat kaitannya dengan nuansa kejawen, namun masyarakat Jawa sampai saat ini masih melestarikan. “Dalam tradisi Jawa, ada tiga hal yang perlu diruwat, adalah Pengaran-aran, Bebasan dan Bebangel,” beber Kepala Disbudparpora Wonogiri Sentot Sujarwoko melalui Kepala UPT WGM Pardiyanto, Kamis (6/10).

Pengaran-aran memiliki makna dan erat kaitannya dengan hari dan waktu kelahiran serta jumlah anak. Bebasan dan Bebangel merupakan perwujudan dari fenomena alam yang terjadi. Bagi yang tertimpa fenomena ini diyakni tertimpa sial dan akan terulang,maka dilakukan prosesi ruwat atau buang sial.

“Dalam tradisi Jawa dikenal dengan istilah ruwatan atau prosesi spiritual membuang kesialan hidup pada diri orang sukerta (susah). Dalam cerita,orang- orang susah ini adalah orang-orang yang akan dimangsa oleh Bathara Kala,” jelasnya.

Ruwatan ini dilakukan dengan prosesi pagelaran wayang kulit, dimana dalang memainkan lakon Murwat Murwokolo. “Selanjutnya ada prosesi potong rambut atau potong pakian kemudian dimandikan dengan kembang sekar setaman,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge