0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengintip Padepokan Dimas Kanjeng di Samarinda

Pengasuh Padepokan Kanjeng Dimas, Taat Pribadi (merdeka.com)

Timlo.net – Ajaran Dimas Kanjeng disinyalir sampai ke Samarinda, Kalimantan Timur. Sebuah padepokan yang bernama Majelis Talim Daarul Ukhuwah yang terletak di Kelurahan Karang Asam Ulu, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur dipimpin oleh Sultan Agung Sumaryono (44).

Gelar Sultan Agung, diberikan Dimas Kanjeng kepada Sumaryono pada November 2015 lalu. Pasca maraknya pemberitaan tentang sepak terjang Dimas Kanjeng Taat Pribadi di berbagai media, pengelola padepokan melepas nama YPDK sebagai singkatan dari Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.

“Di gapura itu awalnya tertulis YPDK Majelis Talim Daarul Ukhuwah. Iya, setelah ramai-ramai, tulisan YPDK dilepas,” kata tetangga seberang padepokan, Suyamto, Rabu (5/10).

Suyamto menjelaskan histori padepokan. Menurut dia, pemimpin padepokan tercatat sebagai warga RT 22. Sebelum memimpin padepokan, Sumayono dikenal sebagai tukang reparasi barang elektronik.

Padepokan di seberang rumahnya sudah ada sejak 2011 lalu. Namun, saat itu hanya menjadi lokasi pengajian biasa hingga akhirnya bernama YPDK Majelis Talim Daarul Ukhuwah, dua tahun kemudian.

Di padepokan, selain tulisan YPDK, sebelumnya terpasang wajah Dimas Kanjeng Taat Pribadi pada dinding padepokan.

“Setelah Dimas Kanjeng ditangkap, gambarnya dan atributnya diturunkan, dilepas,” ujar Suyamto.

Sumaryono, kata tetangganya itu, bukan orang baru bagi warga di RT 22. Dia dikenal sudah lama tinggal di lingkungan itu.

Di rumah sekaligus padepokannya, Sumaryono tinggal bersama istri keempatnya, dan anak-anak dari istri sebelumnya. Bahkan pengikut dalam padepokan itu terus bertambah.

“Hingga akhirnya, November 2015 lalu, Sumaryono dilantik Dimas Kanjeng itu sebagai Sultan Agung. Sekarang dia (Sumaryono) pergi ke Jawa Timur, dengan istri dan anak-anaknya, setelah Dimas Kanjeng ditangkap,” terang Suyamto.

“Dia memang sebagai pemimpin padepokan, sepertinya untuk Kalimantan Timur. Karena waktu dilantik itu, yang datang dari Tarakan, Balikpapan, Tanah Grogot. Tapi tidak ada warga sekitar padepokan yang jadi pengikutnya,” sebut Suyamto.

[ang]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge