0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pengakuan Pengikut Dimas Kanjeng di Bali

Pengasuh Padepokan Kanjeng Dimas, Taat Pribadi (merdeka.com)

Timlo.net – Pengikut Dimas Kanjeng yang berada di padepokan wilayah Tabanan, Bali, memberikan pengakuan. Salah satunya, I Putu S (37), yang mengaku bergabung ke padepokan itu karena diajak temannya.

“Saya awalnya hanya iseng-iseng saja main ke sana (Pupuan, Tabanan) diajak oleh teman, kalau sekarang sudah tidak pernah ke sana lagi selama enam bulan terakhir ini,” akunya saat ditemui wartawan, Selasa (4/10).

Menurutnya, selama ini tidak ada hal mencurigakan dalam Padepokan tersebut. Dia menilai perjalanan Padepokan selama ini bagus, setiap kali berkumpul para pengikut Padepokan Dimas Kanjeng yang dibahas soal kesejahteraan umat, merencanakan program-program serta bersembahyang sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Bahkan kata dia, pengurus Padepokan juga memiliki struktur kepengurusan yang jelas.

“Setahu saya mereka yang datang ke Padepokan ada dari daerah Klungkung dan Gianyar,” lanjutnya.

Ditambahkannya, Dimas Kanjeng Taat Pribadi pernah hadir langsung saat Padepokan itu diresmikan. Taat Pribadi biasanya disebut dengan sebutan Yang Mulia Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

Dalam pertemuan itu, Dimas Kanjeng berpesan kepada seluruh pengikut agar bisa introspeksi diri. Dimas Kanjeng juga meminta agar ketika ada penggunaan dana, harus jelas peruntukannya dan harus ada laporannya.

Dia mengaku tidak tahu sama sekali perihal adanya kegiatan penyetoran uang seperti yang saat ini santer diberitakan di media masa.

“Kalau soal ada penyetoran uang itu saya tidak tahu, malah saya tahunya dari TV,” ujarnya.

Lanjut dia, terkait banyaknya para pengikut yang kabarnya jadi korban cuci otak, ia membantahnya.

“Sepengetahuan saya tidak pernah ada itu soal kita dicuci otaknya untuk selalu ikuti apa kata kanjeng. Tidak tau di tempat lain, di Pupuan Tabanan tidak ada itu sperti yang diberitakan di TV,” jelas dia.

Pengakuan yang sama juga diungkapkan Achmad. Menurutnya, tidak ada doktrin yang diberikan saat bergabung dalam padepokan itu.

“Murni hanya diajarkan saling menghormati kepercayaan. Tidak ada yang aneh-aneh. Tapi memang ada soal diminta penggalangan dana, tetapi iti hanya bila diperlukan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, pria yang menetap di Kediri Tabanan ini menyebut jumlah orang yang tergabung di Padepokan Pupuan ditafsir lebih dari 200 orang.

“Bicara yang tergabung ada lebih dari dua ratus. Kalau aktif belasan,” urainya.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge