0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pilgub DKI

Survei Gerindra: Ahok-Djarot 37 %, Anies-Sandi 36 %, Agus-Sylvi 9 %

dok.merdeka.com
Tiga pasangan siap bersaing di Pilgub DKI (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Gerindra merasa yakin jagonya di Pilgub DKI 2017, Anies Baswedan – Sandiaga Uno bisa memenangkan pertarungan. Gerindra bahkan memprediksi elektabilitas petahana Basuki T Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, akan kalah dengan Anies-Sandiaga dalam waktu dekat ini.

“Insya Allah minggu depan mulai unggul melewati pasangan incumbent. Pasangan Anies – Sandi trennya terus naik dan incumbent terus turun,” kata Wasekjen Partai Gerindra, Andre Rosiade dalam pesan singkat, Senin (3/10).

Andre akui dari survei internal Gerindra, Ahok-Djarot masih unggul. Namun dia menegaskan, hal itu tidak akan bertahan lama. Apalagi, Anies-Sandiaga memepet ketat incumbent.

Tercatat posisi Ahok – Djarot sebesar 37 persen, pasangan Anies – Sandi sebesar 36 persen dan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni sebesar 9 persen. Sisanya belum menentukan pilihan. Menariknya, sebagian besar pemilih Anies – Sandi merupakan pemilih Jokowi – Ahok pada Pilkada DKI 2012 lalu.

“Sebagian pemilih besar Jokowi banyak yang berpindah dan memilih Anies – Sandi. Masyarakat simpati pada pasangan calon yang diusung Gerindra-PKS dan Pak Prabowo yang ikhlas dan berjiwa negarawan mengusung Anies,” terang Andre.

Untuk nama Agus diakui mampu mencuri perhatian masyarakat, namun pasangan Agus-Sylvi kenaikannya masih di bawah 10 persen.

Masih menurut survei internal, masyarakat cenderung menilai pencalonan Agus Harimurti tidak lebih dari rivalitas Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Selain itu, masyarakat Jakarta juga hanya melihat sisi ketampanan Agus dibandingkan calon lainnya.

“Masyarakat tidak melihat program dan apa yang ditawarkan Agus ke masyarakat. Dengan kata lain ada semacam jual mimpi dan tampang atau ganteng saja, cara pencitraannya persis SBY pada 2004 dan 2009 dan citra wong cilik Jokowi pada 2014,” kata Andre.

Ditambahkan, masyarakat Jakarta sekarang lebih cerdas dan realistis dalam menyikapi calon pemimpinnya ke depan. Masyarakat belajar banyak dari pengalaman SBY pada 2004 dan 2009, pengalaman Jokowi di Jakarta 2012 dan Pilpres 2014.

Dimana pada tahun-tahun itu konsultan pencitraan memoles SBY dan Jokowi sedemikian rupa agar mendapatkan tempat di hati masyarakat. Akan tetapi, setelah terpilih kinerjanya justru berbeda dengan polesan citra yang dibangunnya.

“Masyarakat sekarang lebih cerdas, realistis, sudah belajar banyak dari pengalaman SBY 2004 dan 2009 dan zaman Jokowi 2014 yang begitu penuh polesan citra. sehingga kenyataannya berbeda setelah mereka berkuasa,” jelasnya.

“Sekali lagi, Pilkada Gubernur DKI sebagai festival adu ide, program, dan gagasan, bukan Pemilihan Model yang pemilihannya berdasarkan tampang ganteng sebagai tolak ukur pemilihan,” pungkasnya. [rnd]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge