0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hari Kopi Internasional, Komunitas Ini Ajak Ngopi Berkualitas

timlo.net/aditya wijaya
Perayaan Hari Kopi Internasional di Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Penikmat kopi di Klaten yang tergabung dalam Komunitas Doyan Ngopi, Minggu (2/10), menggelar kegiatan ‘ngopi bareng.’ Mereka datang dan berkumpul untuk merayakan Hari Kopi Internasional yang jatuh setiap tanggal 1 Oktober.

“Hari Kopi Internasional itu mulai diperingati sejak 1 Oktober tahun kemarin. Nah hari ini untuk pertama kalinya kita merayakannya dengan ngopi bareng bertajuk nikmato secangkir kopimu,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara, Sulistyo Wibowo, Minggu (2/10).

Menurut dia, acara ‘ngopi bareng’ tersebut muncul dari keprihatinan komunitas yang berdiri sejak tujuh bulan lalu ini akan pengetahuan dan manfaat minum kopi. Masyarakat awam masih memandang jika meminum kopi akan menimbulkan penyakit. Sehingga pihaknya ingin mengedukasi masyarakat dengan minum kopi dari biji berkualitas.

“Kami bukan dari pemilik kedai atau pebisnis kopi, tapi hanya sekadar penikmat kopi yang prihatin dengam gaya konsumsi masyarakat. Kami ingin memberikan edukasi bahwa kopi yang benar-benar berkualitas ada banyak manfaatnya dan tidak menyebabkan jantung berdebar atau nanti lambung saya bakal kumat. Karena masyarakat selama ini justru minum kopi olahan pabrik yang dibuat secara instan, dicampaur pemanis, pewarna, bahkan pengawet,” beber pria berusia 42 tahun yang akrab disapa Sulis ini.

Mengambil lokasi di salah satu bimbingan belajar yang terletak di Jalan Dewi Sartika No 40 atau sebelah utara Stasiun Klaten, setiap pengunjung ‘ngopi bareng’ cukup merogoh kocek Rp 10.000 untuk minum kopi sepuasnya. Sebab, ada delapan varian kopi yang berasal dari penjuru Nusantara. Selain itu, sejumlah pemilik atau barista kedai kopi di Klaten juga datang menyajikan masing-masing seduhan kopinya.

“Silakan menikmati (kopi) sepuasnya, free. Jenis kopinya ada dari indonesia bagian barat yakni Aceh Gayo, Mandailing, lalu Jawa dari Wonosobo Bawongso, Petruk Deles, Turgo Sleman, dan ada dari Bali Kintamani, dan Flores. Komunitas Doyan Ngopi ingin menjaga kualitas seduhan agar penikmat kopi juga bisa merasakan kopi berkualitas dan membedakan varian rasanya,” imbuh Sulis warga Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge