0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Genjot Volume Wisatawan, Ini Wacana Disbudpar

Kepala Disbudpar Solo, Eny Tyasni Suzana (kiri) (timlo.net/setyo puji s)

Solo – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo mewacanakan pendirian fasilitas Tourist Information Center (TIC). Tak tanggung-tanggung, pendirian TIC ini menyentuh hingga level kelurahan.

“Sejauh ini kami hanya memiliki dua TIC. Satu di kantor Disbudpar dan satu lagi di Bandara Adi Soemarmo,” terang Kepala Disbudpar, Eny Tyasni Suzana disela kegiatan public hearing Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan (RIPKA) Kota Solo, baru-baru ini.

Eny yakin, jika setiap kelurahan dilengkapi dengan TIC, maka akan memudahankan wisatawan untuk mengakses informasi bilamana tengah berada di Kota Solo. Selama ini, informasi terkait even ditingkat kelurahan sangat sedikit tersosialisasi. Sehingga, pengunjung dalam even tersebut juga sangat sedikit.

“Kalau sosialisasi kami sudah melakukan, dengan menggunakan leaflet. Tapi, itu juga butuh biaya yang tidak sedikit. Namun, jika dengan pembentukan TIC di tingkat kelurahan ini maka dapat menyasar langsung para wisatawan,” jelasnya.

Pembentukan TIC di masing-masing kelurahan, menurut Eny, merupakan opsi paling masuk akal demi meningkatkan volume kunjungan wisata. Hanya saja, apabila wacana itu benar-benar direalisasikan, tak akan serta merta dilakukan secara menyeluruh. Melainkan, diupayakan per tiap kecamatan atau kawasan yang dianggap strategis.

“Kan kita juga butuh sumber daya manusia. Paling tidak, 2017 nanti diupayakan di setiap kecamatan sudah ada. Tidak harus di kantor kecamatan, bisa saja di lokasi yang strategis,” kata Eny.

Sementara itu, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda RIPKA, Putut Gunawan mengatakan, pembahasan capaian wisatawan dalam aturan baru tersebut dianggap masih terlalu sederhana apabila dikaitkan dengan pengembangan Kota Solo sebagai kota pariwisata. Ada beberapa hal yang harus diperinci, daripada hanya sekedar membahas aspek macam pendapatan sektor wisata.

“Tidak mudah memang. Tapi harus diperinci, misalnya ketika bicara tentang kampung batik Laweyan, harus dijabarkan apa saja di dalamnya, seperti pengrajin dan makanan khas disana,” ucapnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge