0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Pria Paruh Baya Belasan Tahun Tidur di Atas Bajaj

merdeka.com
Riwayudin bersama anaknya di atas bajaj kesayangannya (merdeka.com)

Timlo.net – Pria paruh baya, Riwayudin (54), menceritakan dirinya bertahun-tahun tinggal di bajaj bersama anaknya, Muhammad Irwan (11). Dari bajaj biru itu pula cerita kehidupan Wayudin dan Amat dimulai setiap harinya di ibukota.

“Kami udah dari tahun 2007 hidup di bajaj, sejak Amat (nama panggilan anaknya-red) usianya masih satu tahun,” kata Riwayudin, Selasa (27/9).

Dahulu, kata pria asli Betawi, dia bersama Amat itu tinggal di rumah orangtuanya di kawasan Tanah Tinggi, Johar Baru. Namun setelah orangtuanya meninggal, Riwayudin memutuskan agar rumah tersebut dijual.

“Alasannya karena perebutan tanah. Saudara saya ada belasan,” tuturnya.

Sejak saat itu, dia memutuskan untuk mencari nafkah dengan menarik bajaj sewaan. Karena tidak punya tempat tinggal lain, bajaj itu pun dia jadikan ‘rumah’ tempatnya beristirahat saat malam tiba.

Namanya hidup di bajaj, tentu keadaannya tak senyaman di rumah. Kondisi seadanya membuat Riwayudin dan Amat mencoba bertahan demi melanjutkan kehidupan.

“Harus sering siapin plastik sama kardus. Kalau ujan, ini ditutupin pakai plastik,” ujar Riwayudin dengan senyum ringan di wajahnya.

Hidup di tengah keprihatinan tetap membuat Riwayudi dan Amat bersyukur. Riwayudin merasa lebih bersyukur karena Amat tidak pernah mengeluh menjalani hidup susah bersama. Bahkan di wajahnya selalu ada kegembiraan yang dijadikannya sebagai obat penyemangat kerja.

“Saya sih yang penting punya pekerjaan, bisa mengurusi anak saya. Semoga dia jadi anak soleh, berbakti pada orangtua, rajin belajarnya,” katanya.

Kini, Riwayudin dan Amat tidak perlu lagi merasakan tidur di bajaj yang sempit. Kemarin, mereka baru mendapat bantuan tempat tinggal kontrak dari Dinas Sosial secara gratis selama setahun ke depan. Riwayudin pun memilih tempat tinggal di Tanah Tinggi, Johar Baru, supaya bisa dekat lagi dengan keluarga besarnya di sana. Dia merasa bersyukur, karena kini anaknya tidak usah merasakan resahnya tidur di bajaj lagi.

“Saya udah tua. Saya hanya senang, karena yang penting Amat (panggilan Amat) bahagia,” ujarnya.

Dia berkata, dia akan terus berusaha memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan Amat, bagaimana pun kondisi keadaannya.

“Saya enggak bakal nyerah,” ujarnya.

[lia]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge