0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kasus Jessica, Isi BAP Terlalu Lemah?

merdeka.com
Jessica Kumala Wongso (merdeka.com)

Timlo.net – Sidang kasus tewasnya Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso kembali digelar, Senin (26/9). Tim penasihat hukum terdakwa Jessica mempertanyakan keberadaan sisa minuman es kopi Vietnam milik Mirna yang diduga mengandung racun sianida.

Hal itu lantaran pada berita acara pemeriksaan (BAP), terdapat dua versi yang berbeda.

Pada Tanggal 7 Januari 2016 disebutkan sampel kopi berada di Mabes Polri. Sementara pada 8 Januari 2016, diketahui sampel kopi masih berada di Posek Tanah Abang.

“Di BAP disebutkan bahwa sampel kopi dituangkan dari gelas ke botol di Polsek Tanah Abang, tanggal 8 Januari. Tapi di BAP juga disebutkan barang bukti sudah dikirim Polsek Tanah Abang ke Mabes Polri tanggal 7 Januari,” tutur ketua tim penasihat hukum Jessica Otto Hasibuan, Senin (26/9).

Menanggapi itu, ahli hukum pidana yang dihadirkan kubu terdakwa Jessica Muzdakkir mengatakan isi BAP sendiri sudah menunjukkan lemahnya pembuktian dalam kasus ini. Mudzakkir menilai, demi asas pembuktian di pengadilan, semua kejadian di BAP harus runut, apalagi yang berkaitan dengan barang bukti.

“Setiap tindakan harus di-BAP, demi proses hukum. Ini untuk menghindari penyalahgunaan wewenang. Penuangan kopi ini menjadi kesimpangsiuran dalam BAP,” terang Mudzakkir.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu menerangkan, BAP merupakan produk hukum yang menunjukkan tindakan penyidik dalam menyidiki sebuah kasus. Apalagi hal itu sesuai dalam Peraturan Kapolri (Perkap) nomor 10 tahun 2009, mewajibkan hal tersebut demi menghindarkan adanya penyalahgunaan wewenang dalam proses penyidikan.

“Supaya siapapun pelakunya juga terjamin hak-hak hukumnya,” ujar Muzdakkir.

[eko]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge