0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Batu Gamping Ini Sempat Berjaya, Terpuruk karena Jaman

Tobong gamping di Dusun Jatinom, Desa Gedong, Ngadirojo (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Potensi sumber daya alam Wonogiri melimpah. Salah satunya batu kapur  Batuan ini hampir ada di sepanjang deretan Pegunungan Seribu. Puluhan tahun lalu, batuan ini sempat menjadi bisnis yang menjanjikan.

Dahulu, batuan kapur ini diolah menjadi batu gamping yang berguna untuk campuran bahan bangunan, berfungsi sebagai penambah perekat. Namun seiring waktu berjalan, bisnis ini runtuh dimakan peradaban dan kecanggihan teknologi.

Usaha batu gamping ini sempat berjaya di era tahun  60-an hingga 2000-an. Salah satu pelaku usaha ini yakni Sulardi (60), warga Dusun Jatinom, Desa Gedong, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri.

Bapak berputera tiga ini mengaku menekuni usaha batu gamping ini sejak masih usia remaja. Maklum, di tahun-tahun itu, urusan bangun membangun rumah tak lengkap tanpa adanya batu gamping. Sehingga wajib hukumnya dalam setiap campuran material bangunan harus yang namanya “gamping”. Berbeda saat ini, hampir tidak ada yang menggunakan gamping, tetapi cukup dengan pasir dan semen saja.

“Karena pangsa pasar gamping mulai surut, ditambah lagi tingginya ongkos operasional, terpaksa saya berhenti melakoni usaha itu,” ungkap Sulardi, Senin (26/9).

Ya, tahun 2004, Sulardi terpaksa menghentikan usaha batu gamping yang sebelumnya menjadi penghidupan keluarganya. Berhentinya usaha itu bukan tanpa sebab. Salah satunya tingginya biaya operasional sebagai alasannya.

“Bayangkan, untuk memproses dari batu kapur hingga menjadi batu gamping ini kan dibakar di sebuah tungku besar (tobong) berukuran 4 x 6 meter dengan ketinggian sekitar lima meter, dan proses ini membutuhkan waktu tiga sampai lima hari,” jelasnya.

Di penghujung tahun 1990-an, bisnis ini mulai goyah. Bahan baku yakni batu kapur yang dibeli dari penambang yang harganya mengalami kenaikan, hingga sulitnya mencari tenaga kerja.  arena,dalam proses pembakaran itu harus ada tenaga kerja lebih dari lima orang dengan sistem kerja dua shif yakni siang dan malam.

Tak hanya itu. Dengan beroperasinya tambang kalsit di beberapa kabupaten tetangga juga menjadi pemicu kehancuran bisnis ini.Karena banyak pengguna gamping beralih menggunakan kalsit (gamping mild) yang sudah siap pakai dengan harga murah, berbeda dengan gamping yang masih membutuhkan proses perendaman. Soalnya kalau tidak direndam dulu, gamping ini tidak akan hancur dan halus. Jika tidak halus,saat dipakai untuk campuran bangunan setelah kering dengan ,kondisi bangunan semisal dinding tembok akan rusak. Karena butiran kecil gamping ini akan meledak ketika terkena air, tak ayal bangunan pun rusak.

Di masa kejayaannya, batu gamping asal Wonogiri ini tembus hingga ke luar daerah, seperti Klaten, Boyolali, hingga Cilacap. “Gamping itu saya jual kiloan. Untuk perkilonya Rp 1.250,” tuturnya.

Dengan lesunya usaha batu gamping ini, terpaksa Sulardi memutar otak untuk menghidupi keluarganya. Kemudian ia pun alih profesi menjadi petani. Bangunan tempat produksi gamping pun dibiarkan terbengkelai.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge