0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Charly Van Houten Ditetapkan sebagai Tersangka Penipuan

Charly Van Houten Ditetapkan sebagai Tersangka Penipuan (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Charly Van Houten belum mengetahui status tersangka yang ditetapkan penyidik Polda Jabar terhadap dirinya. Kuasa Hukum Charly, Heri Wijaya mengatakan, kliennya itu masih terheran dengan status tersangka tersebut.

Charly sendiri oleh Polda Jabar ditersangkakan dalam kasus penipuan kerja sama investasi di bidang produksi dan promosi album kompilasi pada tahun 2010.

“Sejauh ini belum ada pemberitahuan resmi mengenai penetapan Charly sebagai tersangka. Kami tahunya dari media,” kata Heri, saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (23/9).

Keheranan itu terjadi, kata dia, karena kasus yang ditudingkan kepadanya justru tidak pernah lagi muncul sejak terakhir kali diperiksa sebagai saksi pada Oktober 2015. Dia menerangkan, kliennya itu memang sempat dilaporkan sekitar April tahun 2015. Di tahun yang sama tepatnya Agustus, kasus tersebut naik statusnya menjadi penyidikan.

Terakhir kali Charly diperiksa sebagai saksi terlapor pada Oktober. Tapi dia heran karena pemeriksaan terakhir sebagai saksi, satu tahun bergulir tiba-tiba jadi tersangka.

“Kita juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia berubah jadi tersangka,” tandasnya.

Dia menganggap pasti penyidik juga mempunyai alasan yang kuat mengapa mengambil keputusan itu. “Penyidik pasti punya alasan kenapa dulu kasus ini sempat diam dan sekarang tiba-tiba menetapkan Charly sebagai tersangka,” terangnya.

Kronologis kasus yang mengakibatkan Charly sampai ditetapkan jadi tersangka bermula saat terjadi jalinan kerja sama investasi pada tahun 2010. Pria asal Cirebon ini menjalin komunikasi bisnis dengan seorang investor bernama Wira Pradana. Penyandang dana itu kemudian menggelontorkan uang sebesar Rp 600 juta demi kelancaran kerja sama.

Dengan uang sejumlah itu Charly kemudian memulai produksi album kompilasi hingga rampung. Bahkan kemudian melakukan promosi yang nilainya justru jauh melebihi itu melalui radio dan stasiun televisi. Hingga Charly pun melakukan distribusi untuk album kompilasi itu.

“Satu stasiun TV diblok. Bahkan ada delapan penyanyi dilibatkan saat itu. Charly pun merogoh koceknya sendiri untuk keperluan itu,” tambahnya.

Selain uang Rp 600 juta, lanjutnya, Wira memang mengeluarkan uang lebih dari Rp 300 juta yang itu inisiatif dia sendiri bukan dari Charly. Dengan uang itu, kliennya menyewa sebuah kantor lengkap dengan ATKnya, manajemennya berikut operasionalnya.

“Termasuk pembuatan akte perusahaan, itupun atas inisiatif Wira. Kenapa nama Wira tidak tercantum dia sendiri yang tahu. Coba tanyakan saja Wira,” jelasnya. Dia menyayangkan ihwal tersebut. Sebab menurut dia, persoalan merupakan kerja sama dua orang mengenai bisnis pembuatan album kompilasi.

“Ini masing-masing ada kontribusi,” ujarnya. Charly dengan kemampuan menggubah music, di sisi lain Wira dengan kekuatan finansialnya.

“Perkara dari hasil kerja sama itu belum menghasilkan, ya wajar. Itulah bisnis. Untung bagi rugi tanggung bersama. Karena dalam prosesnya biaya dari Charly juga timbul. Semua tahu bagaimana membuat album itu. Dia hanya coba peruntungan. Dia baru di bisnis musik. Makanya sampai seperti ini,” tandasnya.

Dia mengakui, kalau Wira berkali-kali menagih uang yang sudah diinvestasikannya ke Charly dan itu tidak lantas dibayar. Namun pada perjalanannya komunikasi keduanya terputus dengan berbagai alasan hingga akhirnya Wira membuat laporan polisi.

Selama enam tahun ini kata dia, Charly juga mencoba mengembalikan uang meski dengan cara dicicil. Tapi ternyata Wira menolak maksud baik kliennya itu.

“Harusnya hormati dulu niatan baik orang itu. Kalau begini kan musisi jadi takut kerja sama dengan investor,” paparnya. [dan]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge