0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kaum Difabel Selalu Jadi Obyek Pemilu, Setelah Itu Ditinggalkan

Sukardi memberikan tanggapan berdirinya SPS (dok.timlo.net/agung widodo)

Sragen —┬áKaum difabel selama ini hanya dijadikan obyek atau bahan kampanye partai politik. Banyak calon anggota legislatif atau calon kepala daerah yang mengangkat tema soal disabilitas, namun setelah pemilu usai, mereka melupakan.

“Kaum difabel selama ini hanya sebagai obyek politik. Setelah ada yang duduk di Dewan, mereka dilupakan,” kata Komisioner KPU Sragen, Diyah Nur Widowati, Kamis (22/9).

Dalam acara Seminar Politik dan Launching Sekolah Politik Sragen (SPS) di Gedung DPRD Sragen, Diyah mengatakan, kaum difabel selama ini kurang mendapatkan perhatian dalam berkarir di bidang politik.

Diyah menyatakan, DPRD dinilai belum memberikan pendidikan politik yang bagus kepada masyarakat. Di sisi lain, dia juga berharap dengan adanya SPS bisa menambah jumlah kuota perempuan dalam kancah politik.

“Saya lihat anggota Dewan yang perempuan di Sragen masih minim,” ujarnya.

Salah satu kaum difabel dari Kecamatan Masaran, Sukardi, membenarkan kalau kaum seperti dirinya memang kurang mendapat tempat. Dia mengaku, pada tahun 1999 pernah mencalonkan diri untuk duduk di DPRD. Tapi memang nasib keberuntungan belum berpihak pada dirinya.

“Sudah lama saya ingin duduk di sini (DPRD). Saya berharap dengan adanya sekolah politik ini nantinya bisa mengakses kaum disabilitas,” papar Sukardi.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge