0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jepang Kuatir Dengan Banyaknya Jumlah Penduduk yang Perawan dan Perjaka

Dok: Timlo.net/ straitstimes.com.
Generasi tua di Jepang. (Dok: Timlo.net/ straitstimes.com.)

Timlo.net—Tantangan yang dialami oleh Jepang sudah diketahui masyarakat dunia. Jumlah populasi warga berusia lanjut semakin banyak dan angka kelahiran menyusut. Sekalipun pemerintah berusaha memberikan insentif untuk warga yang menikah dan memiliki anak, tapi tren ini terus naik.

Menurut Japan Times, sebuah survei baru yang diadakan terhadap warga Jepang berusia 18 hingga 34 tahun diketahui jika 70 persen pria yang belum menikah dan 60 persen wanita yang belum menikah tidak menjalin hubungan asmara. Sekitar 42 persen pria dan 44,2 persen wanita mengaku jika mereka masih perawan dan perjaka.

Survei ini diadakan setiap lima tahun oleh National Institute of Population and Social Security Research. Angka ini meningkat dari hasil survei pada tahun 2010. Dalam survei 5 tahun lalu, hanya ada 48,6 persen pria dan 39,5 persen wanita yang belum menikah. Jumlah anak berusia 15 hingga 19 tahun yang dimiliki pasangan menikah di sana juga menurun.

Pemerintah Jepang mengatakan mereka ingin menaikkan tingkat fertilitas dari 1,4 menjadi 1,8 pada 2025. Mereka menawarkan layanan perawatan anak dan insentif pajak untuk pasangan yang menikah. Tapi dua program itu belum menghasilkan buah yang terlihat secara statistik.

Kebanyakan orang yang disurvei mengatakan mereka ingin menikah tapi tidak tahu kapan. “Mereka pada akhirnya ingin menikah. Tapi cenderung ada jurang pemisah antara keinginan dan realitas,” kata Futoshi Ishii, kepala peneliti dalam studi ini kepada Japan Times.

“Oleh karena itu orang menikah belakangan atau tetap melajang seumur hidup, sehingga tingkat kelahiran bangsa menurun,” tambahnya.

Kondisi ini tidak hanya dialami Jepang. Di berbagai bagian di dunia berkembang, ketidakpastian ekonomi merubah cara pandang generasi muda terhadap kehidupan pernikahan dan seksual mereka. Tapi kondisi ini utamanya ditemui di negara Jepang. Dalam 10 tahun terakhir ini para ahli dan pejabat pemerintah kuatir dengan penurunan populasi di negara itu.

Industri yang berkembang di negara itu menyebabkan kesepian tumbuh subur, sebuah fenomena di mana orang di masa mendatang menjalani hidup dikelilingi teknologi dan semakin jarang bersosialisasi.

 

 

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge