0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Perjuangan Endah untuk Jadi Bidan

dok.timlo.net/tyo eka
Endah Wulan Sari (dok.timlo.net/tyo eka)

Solo — Endah Wulan Sari adalah salah satu lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) PKU Muhammadiyah Surakarta yang bakal diwisuda pada Sabtu (24/9) mendatang. Lulusan Diploma 3 (D-3) Program Studi (Prodi) Kebidanan itu akan dinobatkan sebagai peraih Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tertinggi di Prodi Kebidanan yaitu 3,9.

“Tentu saja saya bangga. Apalagi untuk bisa menempuh studi di STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta butuh perjuangan yang keras,” ujar Endah saat bertemu wartawan, di Kampus STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta, Solo, Selasa (20/9).

Endah sebagai putri pertama dari Pardiyo dan Sri Rochayatun mengaku sejak kecil memang memiliki cita-cita ingin menjadi bidan. Hal ini tidak lepas dari pengalaman yang pernah dialaminya bersama ibunya.

“Waktu ibu saya melahirkan adik saya, ternyata adik saya tidak bisa dibawa pulang karena belum bisa melunasi biaya persalinan. Berdasarkan pengalaman itulah saya bercita-cita ingin menjadi bidan,” ujar Endah kelahiran Boyolali tahun 1995.

Setamat SMA, Endah memang tidak langsung mendaftar ke STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta, tetapi terlebih dahulu mendaftar ke Prodi Kebidanan di Universitas Gadjah Mada (UGM). Keinginan masuk ke UGM ternyata gagal karena tidak diterima.

Selanjutnya, Endah berinisiatif mendaftar dan masuk ke Prodi Kebidanan STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta. Awalnya kedua orang tuanya tidak mengijinkan, karena biaya kuliah bidang kesehatan tidak sedikit. Apalagi kuliah di perguruan tinggi swasta tidaklah murah seperti halnya di negeri.

Tetapi karena tekatnya, akhirnya orang tua meluluskan permintaan Endah untuk kuliah. Untuk membiayai awal kuliahnya, kedua orang tuanya terpaksa menjual menjual rumah satu-satunya yang merupakan pemberian dari neneknya.

“Rumah warisan nenek dijual karena bapak ibu tidak punya uang. Apalagi untuk bayar masuk kuliah dulu sekitar Rp 16 juta. Habis dijual kami sekeluarga ngontrak. Itulah pengorbanan orang tua saya, dan saya tidak ingin mengecewakan,” ujar Endah.

Selama semester 1 hingga 4, Endah mengaku berhasil meraih IPK 4. Namun mulai semester 5 dan 6, agak terganggu konsentrasi lantaran biaya perkuliahan mulai tersendat. Orangtua mengalami kesulitan membayar.

“Biaya ngontrak rumah naik terus, yang akhirnya kami sekeluarga kos. Biaya perkuliahan saya mulai semester lima agak tersendat, hal ini mempengaruhi belajar saya sehingga IPK menurun,” ungkap Endah.

Untuk menompang biaya perkuliahannya, Endah mengaku mulai bekerja meski tidak sesuai dengan kompetensinya. Endah menjaga counter pulsa sambil kuliah. Meskipun hasilnya hanya bisa untuk tambahan biaya kuliah dan biaya hidup. Selain itu, setiba di rumah, Endah juga bekerja sampingan melipati amplop dengan mengambil di sebuah pabrik lalu kalau sudah dilem dikembalikan.

“Alhamdulillah saya mendapat beasiswa di kampus. Lumayan bisa untuk tambahan membayar uang semesteran,” ujarnya.

“Usai mendapat ijazah nanti, saya akan bekerja sesuai keahlian yang saya miliki. Hasilnya nanti salah satunya tentu untuk membahagiakan orang tua,” ujar Endah.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge