0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pilgub DKI, Tunggu “Last Minute” Risma

Risma (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Pendaftaran bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dari jalur partai politik bakal segera dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta. Rencananya, masa pendaftaran akan dimulai 21 September hingga 23 September 2016 mendatang.

Namun hingga kini, baru nama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan nama Sandiaga Uno saja yang sudah dideklarasikan oleh parpol pendukung masing-masing untuk maju di Pilgub DKI. Ahok merupakan calon petahana yang akan diusung Golkar, NasDem, dan Hanura. Sedangkan Sandiaga Uno bakal calon dari Gerindra.

Sementara, informasinya, rekomendasi PDIP soal nama calon yang akan diusung bakal turun pada 19 September nanti. Lantas siapa calon yang akan diusung partai besutan Megawati Soekarnoputri itu?

Seperti diketahui, PDIP merupakan satu-satunya parpol yang bisa mengusung calon sendiri di Pilgub DKI. Partai berlambang banteng itu memiliki kursi terbanyak di DPRD DKI yakni 28 kursi. Sedangkan syarat parpol atau gabungan parpol untuk mengusung calon di DKI adalah 22 kursi.

Meski demikian, PDIP hingga kini masih menutup rapat-rapat siapa yang akan diusungnya. Salah satu nama yang telah lama santer bakal diusung PDIP adalah Tri Rismaharini.

Desakan dari internal maupun eksternal agar PDIP mengusung Wali Kota Surabaya itu di Pilgub DKI pun kencang terjadi. Internal PDIP pun seperti terbelah soal ini.

Apalagi beberapa waktu belakangan, nama Risma semakin moncer dan diprediksi bisa mengalahkan Ahok. Hal ini berdasarkan hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Poltracking Indonesia.

Dalam salah satu survei elektabilitas yang memasangkan langsung sejumlah nama menyebutkan adanya potensi besar dapat mengalahkan Ahok asalkan PDIP lebih memilih mengusung Risma daripada mengusung Ahok dan Djarot Saiful Hidayat.

Jika diskenariokan Pilgub DKI terjadi head to head, Risma sebagai Cagub dipasangkan misal dengan Sandiaga Uno atau Anies Baswedan sebagai Cawagub dapat mengalahkan elektabilitas Ahok jika berpasangan dengan Heru Budi Hartono.

Elektabilitas pasangan Risma-Sandiaga 38.21 persen dibandingkan Ahok-Heru 36.92 persen. Sementara pasangan Risma-Anies elektabilitasnya 37.95 persen dibandingkan Ahok-Heru 35.64 persen.

Tak cuma itu, dari sisi akseptabilitas atau tingkat kesukaan publik, Ahok dan Risma memiliki posisi yang sama yakni 64 persen. Namun demikian, tingkat ketidaksukaan terhadap Ahok lebih tinggi yakni 23 persen. Sementara Risma 13 persen.

“Lebih banyak yang tidak suka ke Ahok (dibanding ke Risma),” kata Direktur Eksekutif Hanta Yudha di Restoran Bumbu Desa, Cikini, Jakarta, Kamis (15/9).

Hasil survei tersebut seperti menjadi angin surga bagi para pendukung Risma untuk maju di DKI. Terakhir, beredar kabar PDIP sudah pasti akan mengusung Risma. Bahkan kabarnya pula, walikota perempuan ini akan dijemput para relawannya dari Jakarta menggunakan Kereta Api.

“Ya aku enggak minta dijemput. Emangnya aku di sini enggak ada kerjaan apa, minta dijemput. Saya katakan selamat datang di Surabaya, mudah-mudahan kerasan,” kata Risma sambil bercanda di Balai Kota Surabaya, Jumat (16/9).

Mengenai hasil survei Poltracking Indonesia, Risma tak mau menanggapi serius. Politikus PDIP ini justru menyatakan tak pernah meminta disurvei.

“Emange menang-menangan. Yang selalu saya sampaikan itu bukan menang-menangan. Karena jabatan itu bukan diminta. Saya juga ndak pernah minta survei-survei. Wong jadi walikota saja, itu aku ndak pernah bikin survei,” katanya cuek.

Risma juga membantah intensitas komunikasinya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri belakangan terkait Pilgub DKI Jakarta.

“Wong aku waktu ketemu enggak ngomong-ngomong soal itu (Pilgub DKI). Waktu ketemu aku diajari banyak hal, salah satunya terkait bagaimana menyelesaikan masalah,” dalihnya.

Sementara saat ditanyakan soal rekomendasi tanggal 19 September, Risma menjawabnya secara diplomatis. Sambil tertawa geli, Risma mengaku tak mengetahuinya dan justru balik bertanya mengapa menanyakan hal itu kepadanya, bukan ke Megawati.

Namun, Risma seakan memberi sinyal saat ditanya apakah dirinya bersedia jika rekomendasi turun. Risma mengaku akan menjawabnya di last minute atau menit terakhir.

“Loh bersedia atau tidak itu tergantung aku. Nanti aku jawabnya last minute. Jadi nggak sekarang jawabnya. Nanti aku jawabnya last minute,” katanya.

Hal ini mengingatkan saat Pilpres 2014 lalu. Drama penetapan calon yang akan diusung PDIP sebagai Capres kala itu tak jauh berbeda dengan Pilgub DKI ini. Nama Jokowi yang saat itu menjabat Gubernur DKI santer dikabarkan bakal diusung PDIP menjadi Capres.

Bantahan demi bantahan pun dilayangkan elite PDIP dan Jokowi saat itu. Namun akhirnya, jelang ‘last minute’, PDIP akhirnya mendeklarasikan Jokowi sebagai Capres.

Ya, ‘last minute’ adalah waktu yang sangat menentukan di politik. Lantas akankah ‘last minute’ Risma berujung pada keputusan maju menjadi cagub DKI? Kita lihat saja nanti. [dan]

Sumber: merdeka.com

 

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge