0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mendulang Untung dari Bisnis Ternak

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net – Sebanyak 18 keluarga para penghuni Kampung 99 Pepohonan di Meruyung, Limo, Depok, Jawa Barat menjalani bisnis ternak hewan kurban. Berawal dari berternak 3 ekor sapi untuk kebutuhan sendiri, kini usaha itu menjadi salah sumber pemasukan untuk menghidupi 135 orang.

“Konsep kita awalnya hidup bersama, ingin hidup sehat, menyiapkan makanan yang sehat sendiri. Untuk mencapai itu, kita sama-sama memutuskan menanam beras sendiri, buah, dan sayur organik. Kemudian kita butuh daging, susu, ayam, ikan, ya sudah kita usahakan sendiri,” kata Nia Rachma, penanggung jawab Peternakan Kampung 99 Pepohonan di Jalan KH Muhasan II, Kelurahan Meruyung, Limo, Depok, Jawa Barat, baru-baru ini.

Nia menuturkan, usaha peternakan yang awalnya untuk mencukupi kebutuhan daging dan susu harian, akhirnya berkembang. Warga sekitar yang mengetahui ada peternakan di situ, membeli daging dan hewan kurban saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

“Orang-orang pada nyari ke sini. Rumah kita kan bebas, orang bisa bebas melihat sapi, kambing, tempat ini terbuka,” ujarnya.

Di Kampung 99 Pepohonan, para penghuninya tinggal menyatu dengan alam. Rumah mereka didominasi dari bahan kayu dan papan.

Dari 18 keluarga, mereka hanya memiliki satu dapur bersama yang menyediakan makanan setiap harinya. Semua bahan makanan mereka dapatkan dari hasil bertani, berkebun, dan ternak yang mereka miliki. Termasuk susu segar dari sapi yang mereka perah sendiri.

Di kawasan seluas 7 hektare ini, para penghuni yang tinggal memiliki hubungan kekerabatan. Nia merupakan keponakan dari Eddy Djamaluddin Suaidy (64) pensiunan karyawan PT Jasa Marga yang pertama kali membeli lahan di daerah itu pada tahun 1989.

Nia memutuskan pindah dari Kebayoran, Jakarta Selatan, sejak tahun 2005 dan tinggal bersama keluarganya di kampung yang tidak jauh dari Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri itu.

“Meski tidak ada hubungan keluarga, kita terbuka bagi siapa saja yang ingin tinggal di sini asal mereka memiliki keahlian dan bisa berkontribusi,” jelasnya.

Selain peternakan sapi, Kampung 99 Pepohonan juga memiliki peternakan kambing jenis Etawa, Boer, Kacang, Saenen, dan Jawa Randu. Jumlahnya mencapai ribuan ekor dan dipelihara di kandang yang berada di kawasan Kalisuren, Bogor.

Untuk jenis kambing Etawa, Jawa Randu dan juga Saenen, pembiakannya selain untuk memproduksi daging juga guna untuk menghasilkan susu. Karena ketiga jenis kambing inilah yang memiliki kualitas susu yang baik, serta banyak menghasilkan susu dibanding jenis kambing lainnya. Sedangkan untuk kambing jenis Boer dan Kacang, biasanya untuk keperluan konsumsi, untuk akikah dan kurban.

Untuk persediaan hewan kurban tahun ini, Nia menjelaskan, Kampung 99 Pepohonan menyiapkan 1.000 ekor sapi yang didominasi sapi Kupang dan Bali serta Madura. Sisanya ada sapi jenis Ongol, Simmental dan Limousine yang beratnya bisa mencapai 1 ton lebih.

Penjualan hewan kurban dilakukan pertama kali pada tahun 2009 dengan jumlah 50 ekor sapi dan kambing. Dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat meski mereka tidak gencar berpromosi. Para pembeli hewan kurban rata-rata mengetahui dari mulut ke mulut. Selain itu, banyak juga panitia kurban dari masjid-masjid yang datang langsung.

“Mereka puas dengan hewan kurban yang kami sediakan, karena di sini juga peternakan. Kami menjamin hewan yang dijual memenuhi syarat untuk kurban dan sehat karena kami menjaga kandang yang bersih, memandikan hewan, diberi vitamin dan dicek oleh dokter dan petugas dari Dinas Peternakan,” katanya.

Sistem penjualan yang dilakukan pun berdasarkan berat hidup sapi atau kambing. Untuk sapi dihargai Rp 60 ribu per kilogram.

Sebelum masuk kandang penampungan hewan kurban, semua hewan ditimbang dan diberi label harga. Cara ini menurut Nia lebih adil bagi pembeli terutama panitia kurban di masjid-masjid yang akan membagikan hewan kurban kepada para penerima. Panitia bisa memperkirakan berapa banyak kupon yang akan dibagikan jika sudah mengetahui berat hewan yang akan disembelih.

“Idul Adha kali ini paling favorit sapi Bali dengan estimasi berat daging murni 38 persen dari berat hidup. Kalau Ongol 32 persen, Simmental dan Limousine 35 persen,” jelasnya.

Untuk sapi dan kambing kurban tahun ini, Nia menambahkan, Kampung 99 Pepohonan menyiapkan sejak setahun lalu. Setelah stok kurban tahun ini habis, mereka langsung membeli bibit dari peternak di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang akan digemukkan termasuk bibit yang dihasilkan dari proses inseminasi di peternakan.

Untuk sapi Simmental dan Limousine butuh waktu 3-4 tahun untuk mencapai bobot maksimal. Sedangkan sapi Kupang dan Bali, biasanya dibeli dari peternakan di Bali dengan dikirimkan melalui kapal.

Untuk sapi yang beratnya di atas 1 ton, Nia mengungkapkan, pembelinya banyak dari pengusaha, pejabat, hingga pimpinan bank.

“Biasanya yang beli dari instansi untuk direksi dan direktur mereka. Gubernur Bank Indonesia juga ambilnya di sini. Direksi Bank Mandiri sudah langganan beli sapi beberapa tahun terakhir, termasuk Pak Jokowi saat jadi gubernur Jakarta,” jelas dia.

[bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge