0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

DTRK Harus Dampingi Pemilik yang Ingin Manfaatkan BCB Privat

Gapura Gladak Solo, salah satu benda cagar budaya yang diberi label BCB (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Kalangan pemerhati cagar budaya mengingatkan agar pemanfaatan bangunan cagar budaya privat tetap memperhatikan aspek-aspek pelestarian benda cagar budaya. Pernyataan ini muncul setelah Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) melontarkan wacana pemanfaatan bangunan cagar budaya privat untuk aktifitas yang produktif.

“DTRK harus memberikan asistensi melalui Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Ahli Bangunan. Harus ada batasan yang jelas aktifitas apa yang boleh apa yang tidak,” kata Ketua Presidium Komite Peduli Cagar Budaya Nusantara (KPCBN) Agus Anwari ketika dihubungi melalui telepon, Rabu (7/9).

Merujuk pada UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya disebutkan bahwa pemanfaatan bangunan cagar budaya privat memang sepenuhnya berada di tangan pemilik yang bersangkutan. Namun pemilik harus mengikuti kaidah-kaidah pelestarian yang sudah dijabarkan dalam UU tersebut.

“Di UU itu diterangkan apa saja yang boleh diubah apa yang tidak. Kalau mau difungsikan, harus mengikuti itu,” kata dia.

Di samping itu, ia menekankan pentingnya konsep yang matang bila bangunan cagar budaya ingin difungsikan kembali. Ia mencontohkan Benteng Vastenburg yang kerap menjadi venue kegiatan masyarakat. Selama ini, Agus menilai pemanfaatan benteng vastenburg belum memiliki konsep yang terarah.

Diberitakan sebelumnya, DTRK mendorong pemilik bangunan cagar budaya privat untuk memfungsikan kembali gedung-gedung bersejarah itu. Salah satu bangunan yang mulai dijajaki untuk difungsikan adalah Dalem Kalitan. Pihak keluarga telah menghubungi DTRK terkait pemanfaatan bangunan tersebut.

“Konsepnya kita serahkan sepenuhnya kepada keluarga. Kita hanya memberi rambu-rambu saja,” kata kepala DTRK Solo, Agus Joko Witiarso.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge