0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bisnis Es Krim, Tak Ada Matinya di Solo

ilustrasi (foto: David)

Timlo.net – Sepuluh tahun lalu, tak banyak orang berpikiran untuk membuka warung atau restoran khusus es krim. Yah, karena selain belum populer, tak banyak yang bisa membuatmakanan yang kerap muncul di dessert pada daftar menu ini.

Namun coba saja sekarang kita masukkan kata kunci es krim atau ice cream di Google Maps. Bum, belasan warung khusus es krim langsung bermunculan di peta Kota Solo.

Bagi Kepala Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Kantor Lembaga Penelititan dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), Eddy Triharyanto, fenomena menjamurnya bisnis es krim di Solo bukan hal yang aneh. Banyak faktor yang membuat prospek usaha es krim di Solo menjadi sangat menggiurkan.

“Yang pertama faktor iklim. Solo ini kan iklimmnya tropis, apalagi kalau musim panas, penjual es krim pasti laris,” kata pria yang juga menjadi tenaga pengajar di UNS itu.

Benar saja, Solo merupakan salah satu kota dengan suhu rata-rata sekitar 30˚ celcius. Terlebih lagi, beberapa bulan terakhir suhu Solo sempat mencapai 38˚ Celcius dengan kelembaban yang tinggi. Dengan suhu udara setinggi itu, membayangkan es krim meluncur di tenggorokan yang kering saja sudah cukup menyegarkan. Tak heran, restoran khusus es krim di Solo sering dipadati pengunjung terutama di siang hari atau di malam hari yang panas.

Selain faktor alam yang sangat mendukung, menurut Eddy, cakupan pasar es krim sangat luas. Tak melihat kalangan menengah atas atau menengah ke bawah, tua atau miskin, semua suka es krim. Luasnya pasaran es krim inilah yang membuat usaha es krim juga termasuk usaha yang sangat fleksibel.

Pengusaha bisa memulai usaha dari booth ukuran 1 meter persegi atau bisa juga langsung membuka restoran es krim dua lantai. Tergantung modal yang dimiliki. Dengan modal seadanya, seorang calon pengusaha bisa membuka usaha es krim kecil-kecilan dengan booth seadanya. Bahan-bahan pun bisa dipilih dari bahan curah yang harganya relatif terjangkau. Tinggal buka setiap minggu di Car Free Day (CFD) atau di tempat-tempat strategis lain.

Bagi yang mempunyai modal melimpah, mereka bisa membuka restoran es krim dengan tema khusus yang menarik. Seperti yang dilakukan Factory Sunny’s di kawasan Gilingan. Sang pemilik memilih bata ekspose untuk dinding untuk membuat kesan hangat, ala negara-negara eropa. Atau The New Ice Cream Tentrem yang melegenda sejak 1952. Di tempat anyar, di Jalan Slamet Riyadi, sang pemilik membangun restoran dua lantai untuk menampung pelanggan dalam jumlah besar.

“Dan itu (pebisnis besar dan kecil) tidak akan saling bersaing karena target marketnya beda,” kata Eddy.

Bila dilihat lebih jauh, merebaknya bisnis es krim juga diharapkan membawa dampak positif kepada perekonomian secara umum. Seperti layaknya bisnis kuliner lain, rantai produksi es krim mulai dari bahan mentah sampai ke konsumen juga cukup panjang.

Mulai peternak sapi perah hingga petani buah-buahan pelengkap es krim, semuanya bisa diuntungkan. Hebatnya lagi, ice crem bisa dibilang memilliki varian yang tak terbatas. Tergantung kreatfitas pembuatnya.

Bicara kreativitas, Eddy menekankan kunci sukses bisnis (termasuk bisnis es krim) ada di inovasi. Pelaku usaha harus bisa terus berinovasi untuk bisa bertahan di pasaran. Tentunya inovasi tidak hanya terbatas pada inovasi rasa. Banyak aspek lain yang bisa dikembangkan selain rasa dan variasi es krim. Sebut saja inovasi dalam hal penyajian, kemasan, pemasaran, manajemen, dan lain sebagainya.

“Tanpa inovasi, pasti kalah. Sudah banyak pengusaha yang terlena. Mereka merasa sudah mapan, kemudian berhenti berinovasi. Tiba-tiba datang kompetitor dengan hal baru, akhirnya dia tertinggal,” kata dia.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge