0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pedagang Keluhkan Kenaikan Harga Retribusi

Pasar Depok Solo (timlo.net/angel rose)

Solo — Sejak diresmikan oleh Walikota Surakarta, Kamis (1/9) lalu, penarikan retribusi elektronik (e-retribusi) di Pasar Depok belum sepenuhnya berjalan. Salah satu yang menghambat, kurangnya pemahaman sebagian besar pedagang mengenai teknologi. Sistem ini dirasa masih sulit dikerjakan, mengingat belum semua pedagang memiliki kartu eletrik.

“Terhitung baru sekitar sepuluh orang yang memegang kartu elektrik. Sejauh ini, kita masih menjalankan sistem manual untuk pembayaran retribusi tiap harinya,” kata ketua Paguyuban Taman Pasar Burung dan Ikan Hias, Depok, Suwarjono saat ditemui Timlo.net Senin (5/9).

Selain itu, tidak tersedianya mesin e-retribusi juga menjadi alasan para pedagang pemegang kartu untuk tidak membayar retribusi secara non tunai. Saat sosialisasi hanya akan ada kenaikan biaya kios dari harga Rp 30 per meter menjadi Rp 100 per meter. Namun, faktanya terdapat biaya tambahan lain yang harus dibayar, seperti listrik dan kebersihan.

“Total biaya retribusi yang dikeluarkan pedagang sekitar Rp 5.880 per hari untuk kios ukuran 18 meter dan Rp 4.060 per hari untuk kios ukuran enam meter,” lanjut Dia.

Adanya perbedaan jumlah biaya retribusi tersebut sempat membuat para pedagang mengeluh. Dia berharap, Pemerintah bisa lebih transparan lagi saat melakukan sosialisasi. Sehingga, kebijakan yang diambil tidak dirasa memberatkan para pedagang.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge