0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Daun Singkong Ini Disulap Jadi Sutera Kualitas Ekspor

foto: Tarmuji
Tim peneliti ulat sutera singkong dari Uniba memberikan pelatihan kepada warga Desa Kulurejo,Kecamatan Nguntoronadi. (foto: Tarmuji)

Wonogiri – Potensi sumber daya alam Wonogiri sangat mendukung untuk budidaya ulat sutera, Samia chyntia ricini, boisd. Ulat ini dikenal dengan sutera pemakan daun singkong.

“Ulat sutera ini ditemukan seorang peneliti dari UNS yakni Prof Dr Sholahudin. Selain cocok dibudidayakan oleh petani Wonogiri, hasilnya pun cukup menggiurkan,” ungkap tim peneliti ulat sutra singkong dari Uniba Surakarta, Gunawan, Sabtu (3/9).

Menurutnya,selama ini tanaman singkong atau ubi kayu identik dengan tanaman marginal dan kerap dikatakan bernilai rendah. Tanaman ini juga banyak diberdayakan di Wonogiri.

Namun selama ini,masyarakat belum mengetahui jika daun singkong ini mampu menghasilkan kain sutera yang memiliki kualitas ekspor.

foto: Tarmuji

foto: Tarmuji

“Saya ingin dengan pelatihan budidaya ulat sutera singkong di Wonogiri khususnya di Desa Kulurejo Kecamatan Nguntoronadi ini dapat menjadi proyek pilot. Yang dulunya singkong dianggap rendahan itu bisa kita tepis. Maka dengan program Hi-Link Kemeneristek Dikti kerjasama dengan Uniba ini kami berharap di pedesaan ini agroindustri bisa berkembang,” jelasnya.

Namun demikian, budidaya ulat sutera singkong ini perlu dukungan berbagai pihak, khususnya Pemkab Wonogiri. Tujuannya agar budidaya ulat sutera singkong ini bisa lebih berkembang .

Ketua Tim Peneliti Ulat Sutera Singkong Uniba, Tri Murti menyebut, jika ulat sutera singkong yang menghasilkan kokon atau kepompong di Desa Kulurejo Kecamatan Nguntoronadi ini ada 17 titik .

foto: Tarmuji

foto: Tarmuji

Budidaya ulat sutera singkong sendiri merupakan penerapan Iptek berbasis riset. Selain budidaya ulat sutera singkong, pihaknya juga memberikan berbagai pelatihan, mulai dari teknis pembibitan, pemeliharaan ulat, panen dan pasca panen kokon (kepompong), pelatihan kerajinan kreatif kokon, pelatihan pemintalan, pelatihanan penenunan dengan mesin ATBM, hingga tata niaga kain sutera serta pemasaran pun diajarkan .

Dari data Kemenperindag tahun 2010, diketahui kebutuhan benang sutera dunia pertahun mencapi angka 118.000 ton. Kemudian kebutuhan benang sutera nasional 900 ton pertahun, sedang produksi benang sutera nasional hanya 36 ton pertahun.

Sementara data dari Balitbang Jateng diketahui jika kebutuhan kain tenun sutera 6.345 meter, kebutuhan benang sutera 4.828 kilogram dan ketersediaan benang sutra 4.035,20 kilogram pertahunnya.

“Jadi ini sebenarnya peluang kita terbuka lebar untuk sutera alam. Terlebih di Wonogiri ini sangat cocok sekali untuk budidaya ulat sutera singkong. Dan hasil kokon ulat sutera singkong ini kualitasnya hampir sama dengan ulat sutera murbai,” jelasnya.

Haryanto, tim peneliti sekaligus pembudidaya ulat sutera singkong asal Dusun Pucung Desa Kedungrejo, Nguntoronadi menambahkan, ulat sutera singkong jika dikembangkan secara benar hasilnya melebihi hasil panenan ubi singkong sendiri.

Dalam waktu 21 hari petani sudah bisa memanen kokon ulat sutera singkong. Untuk modal awal budidaya ulat sutera singkong ini pun terbilang murah, hanya berkisar Rp 1,5 juta. Mulai dari bibit atau telur ulat, hingga boks tempat penangkaran sebanyak dua buah dengan ukuran 1×1 meterpersegi. Sedangkan harga kokon ulat sutera singkong sendiri Rp 120 ribu perkilogram.

“Dalam sekali panen, dua boks yang terbuat dari kayu lapis ukuran 1×1 meterpersegi itu bernilai sekitar Rp 3 juta. Itu masih dalam bentuk kokon tapi dalam bentuk benang atau sudah dipintal harganya sudah mencapai jutaan rupiah,” terangnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge