0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Even Wisata Solo, Keterlibatan EO Disinyalir Jadi Titik Pemborosan

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo (timlo.net/heru murdhani)

Solo — Keterlibatan Event Organizer (EO) dalam penyelenggaraan even pariwisata di Solo disinyalir menjadi titik pemborosan. Berbeda dengan manajemen pariwisata di Banyuwangi, Pemerintah Kabupaten di Ujung Timur Pulau Jawa itu tidak pernah melibatkan EO demi efisiensi anggaran.

“Kita memang masih melibatkan EO,” kata Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo ketika ditemui wartawan di Balaikota, Selasa (30/8).

Ia mengakui hal itu cukup menguras biaya penyelenggaraan pariwisata. Pasalnya, setiap penyelenggaraan harus dikenai berbagai potongan termasuk pajak. Di sisi lain, Pemkot Solo harus menciptakan destinasi wisata baru. Di antaranya dengan mengadakan even-even budaya yang diharapkan mendatangkan wisatawan.

“Beda dengan Banyuwangi. Di sana punya laut. Potensi wisata alamnya ada,” kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo, Eny Tyasni Suzana membantah pihaknya menyerahkan sepenuhnya penyelenggaraan even wisata kepada EO. Seluruh even wisata di Solo, menurutnya, merupakan inisiatif dari komunitas dan budayawan. Pemkot hanya memberi stimulan berupa dana bantuan.

“Kalaupun ada EO yang terlibat itu dari komunitas-komunitas itu,” kata Eny.

Lebih lanjut, Eny menjelaskan, biaya penyelenggaraan even pariwisata tidak sepenuhnya ditanggung Pemkot. Dana dari Pemkot bersifat stimulan untuk komunitas penyelenggara untuk mulai bekerja. Nilainya pun jauh dari biaya yang dibutuhkan. Dengan demikian, Pemkot telah menghemat biaya karena bisa menyelenggarakan even besar dengan biaya minim.

“Seperti SIPA, dana dari Pemkot tidak sampai Rp 200 juta. Padahal biaya yang dibutuhkan mencapa Rp 1,2 Miliar. Komunitas SIPA yang mengusahakan kekurangannya dari sponsor, donatur, dan lain-lain,” kata Eny.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge