0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

King Hoo Ping Tak Selalu Membakar Kapal

timlo.net/ichsan rosyid
Ws Adjie Chandra (baju putih) membakar kapal kapalan yang dipenuhi uang uangan kertas dan nama nama leluhur yang didoakan (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo – Ritual membakar kapal kapalan dalam upacara King Hoo Ping sudah menjadi tradisi etnis Tionghoa di berbagai daerah sejak jaman dahulu. Namun di Solo, ritual itu baru diperkenalkan dalam empat tahun terakhir. Sebelumya, upacara King Hoo Ping di Solo cukup dijalankan dengan berdoa untuk arwah leluhur di depan altar.

“Awalnya saya keliling ke daerah daerah lain melihat lihat bagaimana upacara King Hoo Ping. Akhirnya tahun 2013 lalu kita buat seperti sekarang ini,” kata salah satu tokoh Khong Hu Cu Solo, Ws Adjie Chandra, Minggu (28/8).

Awalnya upaya guru agama Khong Hu Cu itu sempat mendapat tentangan dari sebagian sesepuh Khong Hu Cu. Mereka merasa Khong Hu Cu tidak perlu meniru tradisi Tionghoa. Namun perlahan ia menjelaskan bahwa hal itu bukan hal tabu.

“Saya lihat di kitab-kitab suci kita ternyata tidak dilarang,” kata dia.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Khong Hu Cu tidak bisa lepas dari tradisi etnis Tionghoa. Pasalnya, Khong Fu Tse sang pioneer agama Khong Hu Cu sendiri berasal dari etnis terbesar di dunia itu.

“Di daerah lain ada juga yang sampai membakar mobil-mobilan dan rumah-rumahan. Tapi kita tidak sampai sejauh itu karena biayanya mahal. Yang penting tujuannya sampai,” kata dia.

Upacara King Hoo Ping sendiri merupakan upacara yang dilaksanakan setiap bulan ke tujuh imlek. Pada saat itu, Umat Khong Hu Cu mengantar arwah para leluhur kembali ke akherat setelah sebulan “menjenguk” famili mereka di dunia.

“Kenapa yang dibakar kapal-kapalan, karena jaman dahulu kapal merupakan sarana transportasi yang paling efektif untuk perjalanan jauh,” terangnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge