0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kalau Jantung Lemah, Jangan Beternak Ikan di Kedungombo

Ribuan ikan yang mati di perairan Waduk Kedungombo, Rabu (24/8) (dok.timlo.net/ari kristyono)

Sragen – “Kalau lemah jantung, sebaiknya jangan coba-coba beternak ikan di keramba. Keuntungannya memang besar, tapi modalnya juga harus tebal dan dibayangi risiko kerugian yang tidak kecil.  Salah perhitungan, atau modal kurang tebal, bisa bangkrut.”

Suharno, Sekretaris Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Sragen menuturkan, orang mulai mencoba beternak ikan dengan keramba sejak kawasan itu digenangi menjadi waduk raksasa, sekitar tahun 1990.

Hingga saat ini ada 81 peternak berbagai skala. Mulai dari perorangan yang memiliki 6 petak berukuran 7 x 7 meter, hingga perusahaan yang memiliki ratusan petak keramba.

“Setiap hari 6-7 ton ikan segar dari desa ini dijual ke banyak tempat. Kalau makan ikan nila di Bali, sangat mungkin itu dari sini. Bahkan kualitas ikan nila dari Kedungombo dikenal lebih bagus dari yang dari Waduk Gajahmungkur atau Wadaslintang. Banyak juga yang diekspor dalam bentuk fillet,” ujarnya kepada Timlo.net, Rabu (24/8)

Seorang peternak ikan keramba, Daryono Gundhul (47)  merinci, butuh dana minimal Rp 40 juta untuk merakit keramba dengan satu pos dan 6 petak kolam apung.

“Sedikitnya harus 6 petak, karena supaya panennya bisa sambung-menyambung. Ada uang berputar. Kalau tidak, berat sekali,” ujar dia.

Biaya bibit dan perawatan ikan selama tiga bulan, rata-rata Rp 35 juta per petak.  Jika panen, satu petak keramba menghasilkan sedikitnya 3 ton ikan segar dengan nilai jual ikan nila Rp 29.000/kg untuk pasar lokal dan Rp 35.000/kg jika dikirim ke Bali. Total pendapatan minimal per petak Rp 87 juta setiap tiga bulan, dengan taksiran keuntungan Rp 87-35 juta = Rp Rp 52 juta.

Tapi, menurut  Suharno, tak jarang pemain yang modalnya pas-pasan bangkrut. “Saya itu dulu juga pernah mencoba beternak ikan di keramba, tapi putus di tengah jalan karena perputaran uang yang sangat kencang tanpa bisa ditunda sehari pun. Belum lagi kalau kena masalah,” tuturnya.

Masalah yang bisa menimpa peternak ikan, selain pencurian yang cukup sering terjadi, juga kematian massal seperti saat ini. Perubahan arus perairan membuat endapan waduk terangkat dan meracuni ikan, hingga mati dalam jumlah belasan ton.

 

 

Editor : Ari Kristyono

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge