0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pak Dosen Ini Dipolisikan Setelah Gelapkan Uang Mahasiswa

dok.merdeka.com
Ilustrasi penipuan (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Lima mahasiswa di Balai Pendidikan Pelatihan Perhotelan Pariwisata (BP3P) Nusa Dua, Bali, melaporkan dosennya Pande Luh PSS ke Polda Bali, Senin (22/8). Mereka merasa tertipu untuk kerja di luar negeri setelah bayar ratusan juta.

Ni Luh Sukawati dari Kantor Lembaga Advokasi dan Bantuan Hukum Indonesia (LABHI-BALI), menuturkan kelima mahasiswa ini melaporkan dosennya lantaran belum ada iktikat baik. Sebab, terlapor pernah menjanjikan diberangkatkan kerja di Jerman.

Laporan dengan Nomor; TBL/314/VIII/2016/SPKT Polda Bali dengan tuduhan penipuan tenaga kerja ke luar negeri. Perwakilan dari mahasiswa, I Gede Agus Angga Purnama (21) seusai melapor di Polda Bali mengatakan, pelaku melalui perusahaan agen penyalur PT Papan Dewata membuka kepesertaan program tenaga kerja ke Jerman dan Belanda pada Mei 2015 lalu.

”Mereka dijanjikan berangkat pada Agustus 2015 lalu. Pelaku menjanjikan gaji sekitar 2.700 Euro atau setara Rp 40 juta dan juga memberikan visa kerja. Pelaku diduga memanfaatkan statusnya sebagai dosen Bapppepar sehingga para korban mudah percaya dan membayar Rp 63 juta. Pembayaran dilakukan secara bertahap dan sembari proses pelunasan diminta untuk menjalani training,” ungkap Sukawati di Mapolda Bali.

Menurut Sukawati, setelah para korban melunasi pembayaran, pelaku ternyata tidak tepat janji. Terlapor mencoba mengulur-ulur waktu tetapi pada akhirnya batal tanpa alasan jelas.

Penipuan dilakukan dosen perempuan itu akhirnya terkuak. Itu setelah adanya surat keterangan pemberitahuan dari konsulat Jerman di Indonesia menyebutkan PT Papan Dewata ternyata perusahaan kontraktor. Padahal sebelumnya diakui terlapor sebagai penyalur tenaga kerja Indonesia ke Eropa.

Sebanyak 36 orang yang dikabarkan menjadi korban penipuan. Namun, baru lima orang mahasiswanya resmi melapor ke Polda Bali. Mereka adalah I Gede Agus Angga Purnama (21), Komang Agus Sunada (27), Ni Putu Sri Antari (22), Kadek Krisna Wijaya (22), dan Desak Putu Agustiani (20).

”Sebenarnya, para korban ingin menempuh cara kekeluargaan untuk pengembalian uang. Tetapi terlapor tidak ada itikad baik. Handphone-nya tidak aktif dan dua kali dicari ke rumahnya selalu tidak ada,” katanya.

[ang]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge