0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Badan Karantina Pertanian Tahan Ratusan Burung Diduga Ilegal

Medic Veteriner Badan Karantina Pertanian Adi Sumarmo, Drh Nur Isti Khomah menyerahkan ratusan burung diduga ilegal ke pengelola TSTJ, Senin (22/8) (timlo.net/ichsan rosyid)

Solo — Badan Karantina Pertanian Bandara Adi Sumarmo menahan 322 ekor burung asal Kuala Namu, Medan karena tidak memenuhi persyaratan administrasi. Dari ratusan burung tersebut hanya 87 ekor yang dilengkapi surat kesehatan.

“Di dokumen yang kami terima disebutkan ada 87 ekor terdiri dari tiga jenis yaitu Kacer, Cucak Daun, dan Love Bird. Tapi setelah kita bongkar isinya ternyata ada 332 ekor dan jenisnya ada 10 macam,” kata Medic Veteriner Badan Karantina Pertanian Adi Sumarmo, Drh Nur Isti Khomah, Senin (22/7).

Kecurigaan BKP Adi Sumarmo berawal dari packing barang yang terlalu besar untuk ukuran 87 ekor burung. Burung-burung tersebut dimasukkan dalam kotak kayu berukuran 1x1x1 meter. Setelah dibuka ternyata ada 322 ekor terdiri dari 10 jenis yaitu kacer, ledekan, kepodang, cililin, cucak hijau, glatik, srimbitan, cucak daun, love bird, dan poksai. Ketika sampai di Solo hanya 167 ekor yang hidup dengan kondisi luka parah hingga baik. Sisanya mati dalam pengiriman.

“Burung-burung itu dimasukkan dalam kardus ale-ale. Lalu dipak dalam kotak kayu 1 meter kibik,” kata Siti.

Penanggung Jawab BKP Adi Sumarmo, Muhammad Farid menambahkan burung yang diduga ilegal tersebut merupakan kiriman dari Joko Perdana dengan tujuan Harno di Solo. Harno mengaku membeli burung tersebut melalui internet seharga Rp 150 Juta. Sesuai prosedur, seharusnya Harno mengembalikan burung-burung itu ke alamat asal namun ia menolak karena biaya yang terlalu mahal.

“Karena yang bersangkutan tidak mau mengembalikan, kita titipkan ke Badan Konservasi yang tersertifikasi. Yang terdekat di sini ya di Jurug (Taman Satwa Taru Jurug),” kata dia.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge